Selasa, 21 Mei 2013

PENGGUNAAN METODE IMPROVE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MAHASISWA PADA MATA KULIAH KALKULUS II

AGUSTIN PATMANINGRUM
ABSTRAK: Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi turut mewarnai dunia pendidikan. Matematika sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan mempunyai peranan upaya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti yang terdapat dalam Undang – Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Pasal 39 ayat 2 dijelaskan bahwa : “Pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”. Sehingga peneliti menghadirkan suatu metode baru yaitu metoe IMPROVE untuk suatu inovasi dalam proses pembelajaran. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji-t. Berdasarkan analisa data diperolehthitung > ttabel sehingga penggunaan metode IMPROVE dapat  meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada kalkulus II

Kata Kunci: Metode IMPROVE, Hasil Belajar, Kalkulus II
A. Pendahuluan
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi turut mewarnai dunia pendidikan kita dewasa ini. Khususnya pendidikan di sekolah. Tantangan tentang peningkatan mutu dan relevansi dan efektivitas pendidikan sebagai tuntutan nasional sejalan dengan perkembangan dan kemajuan masyarakat. Sehingga masyarakat mempunyai bekal kehidupan di masa mendatang. Sehubungan dengan hal itu sebagai Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi turut mewarnai dunia pendidikan
Untuk mendapatkan keberhasilan dalam proses pembelajaran tidaklah mudah. Di dalam pelaksanaannya masih banyak hambatan yang ditemui, hambatan tersebut bisa muncul dari dalam diri siswa atau guru terutama pada pembelajaran matematika banyak siswa yang beranggapan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit, sehingga mereka cenderung tidak menyenanginya. Di lain pihak, guru pun sering menemui kesulitan dalam menyampaikan materi matematika yang cenderung abstrak.. Pada pelaksanaan proses pembelajaran guru mempunyai peranan penting agar proses pembelajaran tersebut dapat berjalan lancar dan efektif serta menghasilkan out put yang baik.
Pada pembelajaran konvensional, pembelajaran masih terpusat pada dosen, sehingga mahasiswa cenderung pasif dan sedikit diberi kesempatan untuk berpikir. Hal ini berakibat pola berpikir kreatif mahasiswa menjadi terhambat, padahal kemampuan berpikir sangat diperlukan oleh mahasiswa untuk bekal mereka ketika hidup dalam lingkungan masyarakat luas.
Terkait dengan masalah pola pikir mahasiswa yang cenderung pasif, Wahyudin (dalam Meldiawati,2003:2) menyatakan bahwa “Salah satu kecenderungan yang menyebabkan sejumlah siswa gagal dalam menguasai materi-materi matematika adalah siswa kurang menggunakan nalar yang logis dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Selain itu mahasiswa juga sering merasa bosan dengan metode pembelajaran konvensional. Maka untuk mengatasi kebosanan mahasiswa perlu adanya inovasi dalam pembelajaran. Salah satunya dengan menggunakan metode pembelajaran.
Salah satu metode yang bisa digunakan dalam pembelajaran matematika adalah metode IMPROVE. IMPROVE merupakan sebuah akronim dari Introducing the new concepts, Metacognitive questioning, Practicing, Reviewing and reducing difficulties, Obtaining mastery, Verification and Enrichment. Metode IMPROVE merupakan salah satu metode yang memiliki tingkat kebermaknaan tinggi. Dalam metode ini terdapat 3 komponen interdependen yaitu aktivitas metakognitif, interaksi dengan teman sebaya, dan kegiatan yang sistematik dari umpan balik-perbaikan-pengayaan. Metode IMPROVE berdasarkan pada questioning self melalui penggunaan pertanyaan metakognitif yang berfokus pada: (1) Pemahaman masalah, (2) Mengembangkan hubungan antara pengetahuan yang lalu dan sekarang, (3) Menggunakan strategi penyelesaian masalah yang tepat, (4) Merefleksikan proses dalam solusi. (Rahmawati, 2004: 12).
Dalam metode ini mahasiswa dikenalkan pada suatu konsep baru, memberikan pertanyaan – pertanyaan metakognitif dan kemudian berlatih memecahkan masalah terkait materi. Mahasiswa juga dapat mengetahui dan mengevaluasi materi yang telah mereka pelajari sehingga dapat memperkaya pengetahuan mahasiswa. Rumusan masalah sebagai berikut : (1) Bagaimana hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Kalkulus 2 dengan metode IMPROVE? (2) Bagaimana hasil belajar mata kuliah mahasiswa pada Kalkulus 2 dengan metode konvensional? (3) Apakah metode IMPROVE lebih efektif daripada pembelajaran konvensional terhadap peningkatan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Kalkulus 2?

B. KAJIAN PUSTAKA
1. Matematika
Menurut Soedjadi (dalam Suyitno, 2004: 52) meskipun terdapat berbagai definisi matematika yang tampak berlainan, tetapi dapat ditarik ciri – ciri yang sama tentang matematika yakni :
a.       Matematika memiliki kajian objek yang abstrak
b.      Matematika mendasarkan diri pada kesepakatan – kesepakatan
c.       Matematika sepenuhnya menggunakan pola pikir deduktif
d.      Matematika dijiwai dengan kebenaran konstitensi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 637) disebutkan bahwa matematika adalah ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan. H. W. Fowler dalam Umamik (2005: 14) mendefinisikan bahwa “Mathematics is the abstract science of space and number”. Tetapi, dalam ensiklopedi Amerika dalam Umamik (2005: 14)“It is difficult to give a precise definition of mathematics to which all mathematicians would agree”.
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang bilangan – bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah yang memiliki kajian abstrak dengan menggunakan pola pikir deduktif.
2. Pembelajaran Kooperatif
 “Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran aktif yang menekankan aktifitas siswa bersama-sama secara berkelompok  dan tidak individual”. (Lukmanul Hakim, 2005:54).
Menurut Yuliana, (2005:37) “Pembelajaran kooperatif adalah suatu kegiatan pembelajaran yang digunakan guru untuk melibatkan siswa secara langsung dan memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan kreatifitasnya dan membangun pengetahuannya sendiri”. Adapun elemen-elemen yang saling terkait adalah sebagai berikut:
a. Saling ketergantungan positif
b. Interaksi tatap muka
c. Akuntabilitas individu
d. Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Jadi, pembelajaran kooperatif dapat diartikan kegiatan pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator.
3. Metode IMPROVE
Metode IMPROVE merupakan salah satu model pembelajaran yang didasarkan pada teori kognisi dan metakognisi sosial. Metode ini didesain oleh ilmuwan  bernama Mevarech dan Kramarski. Aktivitas pembelajaran dengan metode IMPROVE ini dilakukan terhadap kelompok–kelompok kecil pada kelas yang heterogen.
IMPROVE merupakan sebuah akronim dari Introducing the new concepts, Metacognitive questioning, Practicing, Reviewing and reducing difficulties, Obtaining mastery, Verification and Enrichment. Penjabaran dari akronim di atas mendeskripsikan tentang tahapan-tahapan yang harus dilakukan dalam kegiatan pembelajarannya. Untuk lebih jelasnya, tahapan-tahapan dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan metode IMPROVE akan diuraikan sebagai berikut:
a. Dosen mengantarkan konsep-konsep baru dengan menggunakan berbagai tipe pertanyaan metakognisi.
b. Mahasiswa berlatih menjawab pertanyaan metakognitifnya dalam menyelesaikan masalah matematis.
c. Dosen mengadakan refleksi.
Dalam metode ini terdapat 3 komponen yang interdependen yaitu aktivitas metakognitif, interaksi dengan teman sebaya, dan kegiatan yang sistematik dari umpan balik-perbaikan-pengayaan. Metode IMPROVE berdasarkan pada questioning self  melalui penggunaan pertanyaan metakognitif yang berfokus pada:
a. Pemahaman masalah.
b. Mengembangkan hubungan antara pengetahuan yang lalu dan sekarang.
c. Menggunakan strategi penyelesaian permasalahan yang tepat.
d. Merefleksikan proses dalam solusi.
(Rahmawati, 2004:12)
Metode IMPROVE menekankan pula pada sistem pembelajaran aktif. Dalam pembelajaran dengan menggunakan metode IMPROVE, akan diberikan pertanyaan-pertanyaan metakognitif yang mampu memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan dengan jalan mengkonstruksinya sendiri. Selain itu, dalam pembelajaran dengan menggunakan metode IMPROVE, siswa dapat leluasa berinteraksi dengan sesama temannya. Interaksi itu dapat memotivasi mereka untuk berbagi pendapat dan memperkaya pengetahuannya.
4. Teori Metakognisi
Istilah metakognisi berasal dari “metacognition”, yang terdiri dari kata “meta” yang artinya berkenaan/berhubungan dan “cognition” yang artinya kesadaran. Westwood (dalam Suprihatin, 2003:7) mengartikan “Metakognisi dengan istilah memahami dan mengawasi cara berpikir seseorang”. Dalam istilah sederhana, “Metakognisi adalah kesadaran berpikir kita sedemikian hingga kita dapat melakukan tugas-tugas khusus, dan kemudian menggunakan kesadaran ini untuk mengontrol tugas yang kita kerjakan” (Jacob, 2001:2).
Suherman (2001: 95) mendefinisikan metakognisi adalah suatu kata yang berkaitan dengan pemikiran yang siswa ketahui tentang dirinya sebagai individu yang belajar dan cara mengontrol serta menyesuaikan perilakunya. Sejalan dengan yang dikemukakan oleh Suherman, Gorofallo dan Lester (dalam Rohaeti, 2003: 13) menyatakan “pengetahuan metakognitif adalah kemampuan seseorang mengontrol proses kognitifnya yang sering di anggap sebagai kekritisan dalam berpikir efektif dan pemecahan masalah”.
Blakey (dalam Permatasari, 2004: 13) mengungkapkan bahwa “Metacognition is thinking about thinking, knowing what we know and what we don’t know”, artinya “Metakognisi adalah berpikir mengenai proses berpikirnya, mengetahui masalah yang kita ketahui dan masalah yang tidak kita ketahui”. Dari beberapa pendapat di atas tentang metakognisi, dapat disimpulkan bahwa metakognisi berkaitan dengan kesadaran berpikir seorang siswa sehingga siswa tersebut dapat memonitor dan mengontrol proses berpikir siswa dalam memcahkan masalah, dan dapat pula menentukan solusi yang lebih tepat dalam memecahkan masalah.
Metakognisi dapat diartikan sebagai kesadaran diri sendiri untuk dapat mengontrol proses berpikirnya dalam memecahkan suatu masalah.
5. Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensional adalah “pembelajaran yang dilakukan oleh guru seperti metode ceramah, tanya jawab dan latihan soal” (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1995: 592). Kelemahan pembelajaran konvensional adalah sebagai berikut:
a.       Keberhasilan sangat bergantung pada keterampilan dan kemampuan guru.
b.      Kemungkinan masih banyak interprestasi.
c.       Metode mengajar aktual yang akan diterapkan mungkin tidak sesuai untuk mengajar keterampilan dan sikap yang diinginkan.
d.      Pembelajaran cenderung bersikap memberi atau menyerahkan pengetahuan dan membatasi jangkauan siswa, sehingga siswa terbatas dalam memilih topik yang disukai dan relevan dengan paket keterampilan yang dipelajari.

6. Hasil Belajar
Menurut Chatarina (2004:4) “Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar”.
Sedangkan menurut Winkel (dalam  Sukestiyarno dan Budi Waluya, 2006:6) Hasil belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai peserta didik di mana setiap kegiatan belajar dapat menimbulkan suatu perubahan yang khas. Penilaian hasil belajar dilakukan sekali setelah suatu kegiatan pembelajaran dilaksanakan.
Penilaian hasil belajar adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui proses belajar dan pembelajaran telah berjalan secara efektif. Keefektifan pembelajaran tampak pada kemampuan siswa mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Dari segi guru, penilaian hasil belajar akan memberikan gambaran mengenai keefektifan mengajar siswa melalui pendekatan metode pembelajaran dan media yang digunakan mampu membantu siswa mencapai  tujuan belajar yang ditetapkan (ketuntasan belajar). Tes  hasil belajar yang dilakukan pada siswa dapat memberikan informasi sampai penguasaan dan kemampuan yang telah dicapai siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dalam penelitian ini hasil belajar yang dinilai adalah hasil belajar aspek pemecahan masalah.
7. Hipotesis
                    Sesuai dengan permasalahan, tujuan penelitian dan teori yang dikemukakan di atas maka peneliti menetapkan hipotesis yaitu: dengan menggunakan metode IMPROVE dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah kalkulus II.

C. Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain praeksperimental (pre experimental design) jenis static group comparisson. Pada jenis ini terdapat dua kelompok, satu kelompok mendapatkan perlakuan dan diobservasi sesudah perlakuan. Kelompok yang satunya yang nonekuivalen tidak mendapat perlakuan, namun diobservasi pada waktu yang sama dengan kelompok perlakuan. Kelompok yang mendapat perlakuan disebut dengan kelompok eksperimen, sedangkan kelompok yang tidak mendapat perlakuan disebut kelompok kontrol (Anggoro dkk, 2005).
Dalam penelitian ini kelompok eksperimen adalah kelompok yang menggunakan metode IMPROVE. Sedang kelompok kontrol adalah kelompok yang menggunakan metode konvensional.
Tempat penelitian di STKIP PGRI Nganjuk program studi pendidikan matematika semester IV. Kelas IV-A sebagai kelas eksperimen dan IVB sebagai kelas kontrol. Masing-masing kelas terdiri dari 36 siswa. Teknik pengumpulan data yaitu dengan menggunakan tes subjektif dan dokumen. Pada pengolahan data menggunakan rumus statistik, yaitu uji-t.
D. Pembahasan

Hasil belajar kelompok eksperimen didapatkan nilai tertinggi yaitu 100 dan nilai terendah yaitu 65 dengan rata-rata 83 dan variannya 67,75. Penggunaan metode IMPROVE digunakan oleh peneliti setelah mahasiswa terbagi dalam kelompoknya masing – masing untuk ber diskusi tentang materi integral pada mata kuliah kalkulus II. Kemudian pembelajaran dilanjutkan sesuai dengan langkah – langkah dengan metode IMPROVE.
Hasil belajar kelompok kontrol didapatkan nilai tertinggi yaitu 100 dan nilai terendah yaitu 55 dengan rata-rata 74,94 dan variannya 142, 02.
Rata – rata nilai antara kelas eksperimen dan kelas kontrol mengalami perbedaan karena masing – masing kelas mendapat perlakuan yang berbeda oleh peneliti, pada kelas kontrol menggunakan metode konvensional sedang kelas eksperimen menggunakan metode IMPROVE.
        Pada rumusan masalah yang ke 3 ini peneliti membuktikan hipotesis.  Pengujian hipotesis melalui analisa data statistik menggunakan uji-t. Sehingga t hitung = 3,35. Untuk mengetahui nilai t yang diperoleh signifikan atau tidak, dapat dilihat nilai t dalam table dengan dk (derajat kebebasan)= 70 dengan Tarafsignifikan 5% atau 0,05 menunjukkan nilai ttabel sebesar 2,00.
Dengan pengujian hipotesis tersebut didapat bahwa nilai thitung>ttabel. Sehingga Ha diterima dan Ho ditolak. Bahwa dengan menggunakan metode IMPROVE hasil belajar matematika lebih baik bila dibanding dengan hasil belajar matematika menggunakan pembelajaran konvensional. Karena hasil belajar matematika yang menggunakan metode IMPROVE lebih baik, maka dapat diartikan penggunaan metode IMPROVE dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah kalkulus II.

E. Penutup
             Berdasarkan hasil analisa data dan bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan :
1.Hasil belajar mahasiswa menggunakan metode IMPROVE nilai rata – rata yang diperoleh sebesar 83 sedangkan varian sebesar 67,75.
2.Hasil belajar mahasiswa menggunakan metode konvensional nilai rata – rata yang diperoleh sebesar 74,94 sedangkan varian sebesar 142,02.
3.Dari hasil analisa data diperoleh nilai thitung = 3,35 sedangkan ttabel (dk = 70) = 2,00. Sehingga thitung > ttabel maka hipotesis Alternatif (Ha) diterima, bahwa hasil belajar mahasiswa dengan menggunakan metode IMPROVE lebih baik dibanding dengan pembelajaran konvensional. Karena hasil belajar mahasiswa menggunakan metode IMPROVE lebih baik dibanding dengan pembelajaran konvensional, maka penggunaan metode IMPROVE dikatakan dapat  meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada kalkulus II.

DAFTAR PUSTAKA
Anggoro, 2005. Penuntun Belajar yang Sukses. Nine Karya, Jakarta.
Arikunto, Suharsimi.2006. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta.
Chatarina, 2004. Dasar-dasar Metodologi Penelitian. UMM University Press Malang.
Hakim, Lukmanul. 2005. “Metodologi Research “ Yogyakarta : Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta.
Hariyanti. 2005. Kumpulan Ringkasan Metodologi Penelitian dan Tuntunan Penulisan Skripsi.
Meldiawati. 2003. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi. Jakarta.
Nawawi, Hadari. 1985. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Universitas Terbuka, Jakarta.
Poerwadarminto, 1986. Kamus Umum Bahasa Indonesia.PN Balai Pustaka, Jakarta.
Rahmawati. 2004. Model Pembelajaran Matematika Cooperatif Learning Tipe STAD Melalui Pemanfaatan Alat Peraga Terhadap Hasil Belajar matematika Kompetensi Dasar Menghitung Luas Permukaan Kubus dan Balok Siswa Kelas VIII Semester Genap. Skripsi tidak di publikasikan. Nganjuk : STKIP PGRI NGANJUK.
Rianto, Yatim, 2001. Materi Pokok Psikologi Penelitian. Universitas Terbuka, Jakarta.
Suprihatin. 2003. Teknik Menyusun Karya Tulis dan Sinopsis. PT. Bina Ilmu, Surabaya.
Suherman. 2001. Menulis Artikel dan Karya Ilmiah. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Suyitno.2004.” Metodologi Penelitian Pendidikan”.Jakarta. Bumi aksara.
Sugiono.2001.” Pengantar Statistik Pendidikan “ Jakarta : PT Raja Gafindo Persada.
Sugiyono.2006.”Statistik Untuk Penelitian”. Bandung.Alfabeta.
Sulitiyono dan Waluyo, Budi. 2006. Strategi Belajar Mengajar Matematika . Jakarta : Dekdikbud.
Tasdikin. 2004. Penuntun Belajar yang Sukses. Nine Karya, Jakarta.
Umamik. 2005. Ayo Senang Menulis Karya Tulis Ilmiah, CV. Media Pustaka, Jakarta.
Yuliana. 2005. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi. Jakarta.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More