<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8325156589679679494</id><updated>2012-02-16T17:52:12.111+07:00</updated><category term='Arikel'/><title type='text'>Jurnal Dharma Pendidikan</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dharmapendidikan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8325156589679679494/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmapendidikan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>h4r1</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00647801599684162772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-jjV8jS_PCC8/TYP1Nytc5RI/AAAAAAAAAAY/0Woktzjo4EM/s220/DSCN0805.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8325156589679679494.post-4352756335524222984</id><published>2011-03-28T05:19:00.001+07:00</published><updated>2011-03-28T05:28:05.568+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arikel'/><title type='text'>Upaya Meningkatkan Pembelajaran Kooperatif Untuk Menciptakan Kultur Sekolah Yang Dinamis Dan Demokratis</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_Ekonvgqkc58/TY-49edEbVI/AAAAAAAAAJw/kl8z4bgEquQ/s1600-h/Juminto%5B4%5D.jpg"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; margin: 0px 10px 4px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="Juminto" border="0" alt="Juminto" align="left" src="http://lh5.ggpht.com/_Ekonvgqkc58/TY-4-7vCSzI/AAAAAAAAAJ0/JoLnX58ySkk/Juminto_thumb%5B2%5D.jpg?imgmax=800" width="200" height="199" /&gt;&lt;/a&gt; Oleh : Juminto&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Abstrak :&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Diterapkannya Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan, dengan mengembangkan potensi siswa yang sangat beragam. Potensi tersebut dapat berkembang dengan baik jika mendapat stimulus dengan tepat. Salah satu pendekatan dalam pembelajaran yang berbasis kompetensi adalah menempatkan siswa pada subjek pembelajaran. Pendekatan ini didasari oleh pemikiran bahwa siswa memiliki potensi berpikir sendiri, dan potensi ini dapat diwujudkan apabila siswa diberi kesempatan beraktivitas dan berpikir secara mandiri. Tujuan pembelajaran adalah agar siswa memiliki pengetahuan mengenai proses dan perkembangan masyarakat dan budaya Indonesia. Dalam proses pembelajaran harus berusaha mengaitkan isi pembelajaran dengan dunia nyata, dan akan memotivasi siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan dengan penerapan dalam kehidupan siswa di masyarakat. Hal inilah yang menjadikan pembelajaran bermakna bagi siswa &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kata Kunci :&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Pembelajaran kooperatif, kultur sekolah, dinamis dan demokratis&lt;/p&gt;  &lt;h3&gt;A. PENDAHULUAN&lt;/h3&gt;  &lt;h4&gt;1. Latar Belakang&lt;/h4&gt;  &lt;p&gt;Sekolah merupakan sebuah institusi pendidikan yang berusaha memberi bekal kehidupan kepada siswa dengan melalui program pengajaran dan pembelajaran. Bekal tersebut meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diharapkan dapat membantu siswa dalam menghadapi kehidupan nyata di masyarakat. Dalam hal ini kemampuan yang perlu dikembangkan pada diri siswa meliputi semua aspek, tidak hanya aspek berpikir (kognitif), tapi juga aspek keterampilan (psikomotor) dan sikap (afektif). Sehingga sekolah dapat disebut sebagai tempat pengembangan diri siswa dan sebagai pusat pembudayaan bagi siswa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diterapkannya Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan, dengan mengembangkan potensi siswa yang sangat beragam. Potensi tersebut dapat berkembang dengan baik jika mendapat stimulus dengan tepat. Salah satu pendekatan dalam pembelajaran yang berbasis kompetensi adalah menempatkan siswa pada subjek pembelajaran. Pendekatan ini didasari oleh pemikiran bahwa siswa memiliki potensi berpikir sendiri, dan potensi ini dapat diwujudkan apabila siswa diberi kesempatan beraktivitas dan berpikir secara mandiri. Tujuan pembelajaran adalah agar siswa memiliki pengetahuan mengenai proses dan perkembangan masyarakat dan budaya Indonesia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pemberian pengalaman yang bermakna bagi siswa dalam proses pembelajaran di sekolah harus direncanakan secara sadar dan sistematis. Karena pengalaman siswa tersebut harus dapat direncanakan, diterapkan dan dievaluasi ketepatannya dalam dunia nyata. Tanpa kesadaran yang tinggi, mustahil seorang guru mampu memberikan pengalaman yang berharga bagi anak didiknya. Salah satu usaha sadar sorang guru adalah pemilihan strategi pembelajaran yang tepat yang akan digunakan sebagai sarana membelajarkan siswa dan pemberian pengalaman yang bermakna. Pengalaman belajar akan menjadi bermanfaat dan bermakna jika siswa tersebut mampu untuk mencari dan menemukan sendiri konsep pengetahuan baik secara individual maupun kelompok. Pembelajaran Kooperatif merupakan salah satu strategi pembelajaran yang tepat untuk membelajarkan siswa secara berkelompok dan saling bekerja sama/membantu untuk memecahkan suatu peramasalahan. Metode ini bukan sekedar diskusi yang dikuasai/didominasi oleh beberapa orang saja. Kebanyakan yang lain hanya suka menjadi penonton yang pasif sehingga susasana kurang dinamis. Namun disini guru harus mendorong siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran. Untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang dinamis, efektif dan demokratis, maka pembelajaran berkelompok (kooperatif) merupakan pilihan yang tepat untuk diterapkan.&lt;/p&gt;  &lt;h4&gt;2. Rumusan Masalah &lt;/h4&gt;  &lt;p&gt;Dalam hal ini berusaha menjawab permasalahan dalam pembelajaran dan kultur sekolah berkaitan dengan penggunaan pembelajaran kooperatif. Dari uraian di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan, yakni (a) Dengan menggunakan pembelajaran kooperatif bagaimana dalam menciptakan kultur sekolah yang dinamis dan demokratis! (b) Apakah penggunaan Pembelajaran Kooperatif sangat efektif dan mampu memberi bekal pada siswa dalam mengembangkan lingkungan sekolah yang dinamis dan demokratis ?.&lt;/p&gt;  &lt;h4&gt;3. Tujuan Penelitian &lt;/h4&gt;  &lt;p&gt;Tujuan dalam penulisan ini untuk mendapatkan deskripsi penerapan pembelajaran kooperatif dalam upaya mengembangkan kultur sekolah yang dinamis dan demokratis serta semangat kebersamaan. Dan (a) Untuk mendapatkan deskripsi tentang optimalisasi penerapan pembelajaran kooperatif dalam membentuk sebuah kultur sekolah yang dinamis dan demokratis (b) Untuk mendapatkan deskripsi tentang pengaruh dan efektifitasnya penerapan pembelajaran kooperatif di lingkungan sekolah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;B. Perencanaan dan Pembahasan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;1. Pembelajaran Kooperatif (&lt;i&gt;Coopertive Learning&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pembelajaran Kooperatif (&lt;i&gt;Cooperative Learning&lt;/i&gt;) merupakan salah satu strategi pembelajaran yang membelajarkan siswa secara berkelompok dan saling bekerja sama/ membantu untuk memecahkan suatu peramasalahan. Model pembelajaran kooperatif tidak sekedar belajar dalam kelompok, namun harus memenuhi unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif supaya pengelolaan kelas lebih efektif (Lie, 2004: 29). Metode ini bukan sekedar diskusi yang dikuasai/didominasi oleh beberapa orang saja. Kebanyakan yang lain hanya suka menjadi penonton yang pasif namun disini guru harus mendorong siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran. Menurut Cilstrap, dan Martin bekerja secara kelompok memberikan pengertian sebagai kegiatan sekelompok siswa yang biasanya berjumlah kecil, yang diorganisisr untuk kepentingan belajar (Roestiyah, 1998: 15). Keberhasilan kerja kelompok ini menuntut kegiatan kooperatif yang dimenuntut kegiatan yang kooperatif dari beberapa individu tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam pembelajaran konstruktivisme, siswa diharapkan dapat membangun dan membentuk pengetahuannya sendiri, bukan hanya menerima informasi sepihak dari seorang guru. Pembentukan pengetahuan tersebut dapat berasal dari diri yang bersifat individu, dapat pula diperoleh secara berkelompok / bekerja sama dengan siswa lain. Dalam hal ini sangat berkaitan dengan masyarakat belajar (&lt;i&gt;Learning Community&lt;/i&gt;), yang akhirnya melahirkan pendekatan pembelajaran kooperatif. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam melakukan tugas belajarnya, tiap anggota kelompok saling bekerja sama dan membantu untuk memahami materi yang sedang dipelajari. Salah satu kelebihan pembelajaran kooperatif adalah memberikan siswa ketrampilan untuk bekerja sama dan kolaborasi dengan siswa lain, dengan berbagai kemampuan dan karakter yang berbeda. Dengan pembelajaran kooperatif, aktivitas siswa baik secara kelompok maupun individu akan sangat tinggi. Hal ini akan membuat pembelajaran lebih aktif dan dinamis. Karena setiap anggota kelompok mempunyai tugas dan dan tanggung jawab yang harus dilakukan untuk kelompoknya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Secara umum tujuan penerapan kerja kelompok ini adalah untuk memupuk kemampuan kerja sama diantara peserta didik (siswa) dalam menyelesaikan suatu tugas sehingga dalam kelompok tersebut terjadi keterlibatan sosio emosional dan intelektual peserta didik dalam proses belajar mengajar. Kemampuan bekerja sama dan saling mendukung akan teruji, menjadikan mobilitas yang tinggi dalam proses pembelajaran.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;2. Kultur sekolah yang dinamis dan demokratis&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Keberhasilan menciptakan suasana sekolah yang kondusif untuk pembelajaran sangat di pengaruhi oleh keterlibatan seluruh elemen yang ada dalam sekolah, baik dari unsur kepala sekolah, guru, konselor, staf tata usaha, siswa dan lingkungan masyarakat sekitar. Kultur sekolah yang dimaksudkan dalam dalam makalah ini adalah segala bentuk perilaku, sikap dan budaya yang berlaku dalam suatu sekolah baik itu berupa abstrak (ide) samapai ke hal konkret yang dapat dilihat dalam perilaku sehari-hari. Setiap sekolah harus mengembangkan kultur sekolah yang kondusif, efektif, dinamis dan demokratis untuk menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar. Sekolah juga merupakan pusat pembudayaan bagi siswa. Karena dalam lingkungan inilah peserta didik akan membentuk kepribadiannya dan berperilaku sesuai dengan budaya yang berlaku di sekolah dan masyarakat. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Guru sebagai agen pembentuk kepribadiaan siswa, harus merusaha memberikan stimulus, motivasi dan keteladanan untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan dinamis. Semua strategi pembelajaran yang diterapkan akan sangat berpengaruh terhadap pengalaman belajar siswa. Lingkungan pembelajaran dapat dikatakan dinamis jika dalam proses pembelajaran siswa terlihat aktif, kreatif, dan pembelajaran tidak didominasi oleh guru. Selain itu guru juga harus mengembangkan suasana pembelajaran yang demokratis. Pembelajaran dapat dikatakan demokratis jika terdapat perilaku menghargai hak-hak orang lain dalam menyampaikan pendapat, saran, berekspresi, berkreasi (Depdiknas, 2003:8). Suasana di sekolah haruslah menunjukkan adanya kebebasan mengeluarkan pendapat, dan menghargai pendapat sesuai sopan santun berdemokrasi. Adanya suasana di lingkungan sekolah akan memberikan pengaruh pada pengembangan budi pekerti, terutama sikap saling menghargai dan saling memaafkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;3. Penerapan Pembelajaran Kooperatif&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h4&gt;a. Perencanaan&lt;/h4&gt;  &lt;p&gt;Menurut jenis penggunaan data, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan, yang dilakukan dalam bentuk siklus tindakan. Penelitian ini terdiri dari dari dua siklus tindakan dan masing-masing siklus terdiri dari empat momentum tindakan, yaitu &lt;i&gt;perencanaan, tindakan, observasi dan evaluasi, refleksi&lt;/i&gt;. Pada siklus I dilaksanakan bulan maret 2005. Siklus II dilakukan pada bulan Mei 2005.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;b. Setting Penelitian&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam pemilihan subyek penelitian, peneliti memilih menggunakan rancangan penelitian &lt;i&gt;Randomized Control Group Only Design&lt;/i&gt;.(Legawa, 2003: 16).&lt;/p&gt;  &lt;h4&gt;c. Rincian Pelaksanaan&lt;/h4&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;(1) &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pelaksanaan siklus I&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdiri dari dua pertemuan (tatap muka). Dalam siklus ini terbagi menjadi empat moment kegiatan, yaitu &lt;i&gt;perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi&lt;/i&gt;. Pada kegiatan perencanaan, peneliti mempersiapkan semua kebutuhan yang diperlukan penelitian, diantaranya Rencana Pengajaran (RP), alat/bahan tindakan seperti kartu pembagi kelompok, kertas kerja kelompok. Juga mempersiapkan instrumen pengamatan/lembar observasi yang digunakan oleh kolaborator pada saat melakukan tindakan. Pada tahap pertama, siswa dibagi dalam beberapa kelompok, kemudian masing-masing kelompok diberikan satu permasalahan yang harus dipecahkan oleh masing-masing kelompok. Pada tahap kerja kelompok ini peneliti dan kolaborator melakukan kegiatan observasi/pengamatan terhadap jalannya proses belajar mengajar dan melakukan pencatatan terhadap kejadian-kejadian penting yang ditemukan. Setelah proses pembelajaran selesai, peneliti melakukan refleksi sekaligus penilaian. Pada tahap kedua, setelah semua kelompok menyelesaikan tugas kerja kelompok, dilanjutkan dengan presentasi kelompok secara bergantian. Disini akan terjadi diskusi dan interaksi antar kelompok, karena kelompok lain akan bertugas memberikan tanggapan terhadap kelompok yang tampil presentasi. Pada saat presentasi/diskusi peneliti dan kolaborator melakukan penilaian terhadap perilaku demokrasi dan keaktifan belajar siswa. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;(2) &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pelaksanaan Siklus II&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;dilaksanakan, dengan melakukan pengamatan sikap dan perilaku siswa yang berkaitan dengan pengembangan lingkungan belajar yang dinamis dan demokratis. Observasi tersebut dilakukan terhadap perilaku siswa baik di dalam kelas maupun perilaku di luar kelas, misalkan pada saat istirahat, berolah raga, dan semua kegiatan di lingkungan sekolah. Semua data hasil penilaian ini dijadikan sebagai patokan, setelah dilakukan analisis dan pengolahan untuk melakukan pembahasan hasil penelitian.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;d. Penilaian dan Evaluasi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kegiatan pengumpulan data yang dilakukan pada rangkaian penelitian ini, dilakukan melalui instrumen pengamatan, catatan kejadian saat melakukan tindakan, wawancara dan dokumentasi. Pengamatan dilakukan pada saat melakukan tindakan yang dilakukan oleh kolaborator dengan mengisi instrumen pengamatan. Kolaborator, sebagai mitra peneliti, teman sejawat yang tertarik dan bersedia membantu melakukan penelitian. Disamping itu peneliti juga berpandangan bahwa kolaborator telah mempunyai kemampuan dan pemahaman yang baik di bidang penelitian tindakan, dan bersedia diajak bekerja sama untuk melakukan penelitian tindakan ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kegiatan mengumpulkan data melalui catatan kejadian dilakukan oleh kolaborator dan peneliti bersama-sama, untuk mencatat semua peristiwa/kejadian nyata yang terjadi di luar rancangan yang telah dipersiapkan. Catatan kejadian tersebut akan dipertimbangkan untuk memberikan tindakan berikutnya. Metode wawancara dilakukan dengan menggunakan pedoman umum wawancara (kuesioner), dan wawancara langsung melalui refleksi dengan siswa. Data dokumentasi dan foto diambil saat peneliti melakukan tindakan dalam kelas untuk menjaga kredibilitas dan keabsahan data penelitian.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Analisis data yang sudah terkumpul, dilakukan dengan model mengalir(linier) dan melingkar(Sirkuler). Langkah-langkah analisis data tersebut pada garis besarnya terbagi: proses editing(mengedit), yaitu data yang sudah terhimpun khususnya kuesioner perlu diadakan penelitian kembali tentang kelengkapan pengisian, kejelasan tulisan, keserasian dan relevansi jawabannya.(Legawa, 2003: 28). Langkah analisis berikutnya adalah koding, yaitu usaha mengklasifikasi dan pengkategorian data, menandai jawaban-jawaban dengan kode tertentu. Setelah diberi kode, data dimasukkan ke dalam tabulasi data. Langkah berikutnya adalah analisis data dengan pendekatan kualitatif sekaligus penyimpulan data.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;4. &lt;b&gt;Pembahasan dan analisis&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam menciptakan suatu kultur sekolah, semua aspek akan selalu bekaitan dan saling mempengaruhi. Hasil belajar yang diharapkan benar-benar perkembangan yang dinyatakan dalam perilaku dan keterampilan sehari-hari. Kebiasaan dan perilaku tersebut tidak ditimbulkan dari hanya memahami fakta, melainkan menguasai dan mempribadikan secara terus menerus. Dalam teori pembelajaran tingkah laku yang dikemukakan oleh &lt;i&gt;Thorndike&lt;/i&gt; menyatakan bahwa stimulus yang diberikan setelah perilaku mempunyai pengaruh terhadap perilaku-perilaku selanjutnya. Penanaman perilaku melalui stimulus pembelajaran kooperatif diharapkan dapat merangsang siswa untuk mengembangkan kultur sekolah yang dinamis dan demokratis. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Penerapan metode pembelajaran kooperatif, terbukti sangat tepat untuk pembelajaran konstruktivisme. Dari hasil tindakan siklus I dapat dibuktikan bahwa siswa berusaha untuk berinteraksi langsung dengan konsep pembelajaran. Siswa berusaha mencari, menemukan sendiri dan memecahkan masalah (dengan kelompoknya) dan membangun sendiri konsep pengetahuan dan sikap, bukan mengandalkan informasi sepihak dari guru. Dengan pembelajaran kooperatif , siswa dapat bekerja sama dengan kelompoknya untuk memecahkan masalah dan dapat mengkonstruksikan pemahaman dan membangun sikap ke dalam alam pikirannya sendiri. Dalam tindakan siklus I juga mengembangkan pendekatan kerja kelompok. Hal ini maksudkan agar siswa dapat saling bekerja sama dalam kelompoknya. Adanya perbedaan individu, baik dalam kemampuan belajar maupun bidang minat dapat teratasi dalam kelompok. Disamping itu juga memberikan pengalaman berorganisasi dan mengolah pengetahuan yang dimiliki untuk pemecahan masalah.(Roestiyah, 1998: 79). Pemilihan pendekatan kerja kelompok pada siklus I dinilai berhasil dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari indikator bahwa tiap-tiap kelompok mampu bekerja sama dan berbagi tugas dengan anggotanya dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru dengan baik dan tepat waktu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Penggunaan kerja kelompok diharapkan dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa di kelas, sehingga pembelajaran lebih dinamis. Hal ini didasari oleh pemikiran supaya hasil kerja kelompoknya dapat diinformasikan dan dikomunikasikan, akhirnya dapat dipahami oleh kelompok lain. Dengan meningkatkan aktivitas pembelajaran tersebut diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis.(Depdiknas, 2003: 28). Dengan pendekatan pembelajaran ini, proses belajar mengajar tidak kaku, tidak menjenuhkan dan membosankan. Penggunaan strategi ini terbukti sangat efektif sebagai upaya meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa. Hal ini dapat dilihat dari catatan lapangan dan lembar pengamatan kolaborator, terdapat 85% siswa sangat aktif dan mempunyai motivasi yang tinggi. Pembelajaran kelihatan dinamis dan siswa bebas melakukan kreativitasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada pelaksanaan tahap II, setiap kelompok secara bergantian melakukan presentasi. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas. Hal ini merupakan pemberian pengalaman pembelajaran kepada siswa untuk saling berbagi informasi (&lt;i&gt;sharing of information&lt;/i&gt;) dan saling melengkapi antara kelompok satu dengan kelompok lain. Sehingga model pembelajaran ini diharapkan juga dapat memberikan bekal &lt;i&gt;Life Skill&lt;/i&gt; di dalam kehidupan berdemokrasi pada siswa. Teknik dan pengalaman belajar ini akan sangat berguna bagi siswa dan merupakan bekal dalam hidup di masyarakat untuk bisa saling memberi dan menerima pendapat orang lain, menghormati pendapat orang lain, belajar menerima kritik dan masukan dari orang/kelompok lain. Karena pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial dan akan kembali hidup dimasyarakat.(Bahri, 2000: 84). Pada fase ini hal penting yang dilakukan oleh guru/peneliti adalah memberikan penguatan materi (Reinforcement). Sehingga siswa dalam penguasaan materi dan pembentukan sikap/perilaku akan lebih mantap. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Untuk melihat tingkat keberhasilan suatu kegiatan pembelajaran diperlukan adanya penilaian. Dalam sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi, terdapat tiga ranah yang dinilai, yaitu kognitif, psikomotor dan afektif. Penilaian dalam pembelajaran ini menekankan pada proses pembelajaran, bukan penilaian hasil (aspek kognitif), meskipun tidak dapat meninggalkan begitu saja aspek ini. Penekanan pada proses pembelajaran ini dinilai dari pengamatan kegiatan proses belajar mengajar yang mengacu peda penilaian sebenarnya (&lt;i&gt;authentic assesment&lt;/i&gt;). Hal ini didasarkan pada pembelajaran kontekstual, yaitu permasalahan yang dihadapi siswa bersifat konteks, nyata yang ada di tengah masyarakat. Bila siswa mampu memecahkan permasalahan yang ada melalui langkah dan proses yang tepat, diharapkan dapat menjadi pengalaman dan pemahaman yang nyata dan dapat dimanfaatkan dalam kehidupannya. Dengan demikian sekaligus aspek psikomotor dan aspek afektif dapat dikembangkan secara maksimal. Anak akan dapat berkembang secara menyeluruh dari aspek kemampuan berpikir, kemampuan penguasaan konsep, aspek sikap dan perilaku bahkan sampai penerapan konsep sosialnya di masyarakat. Untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang dinamis , efektif dan demokratis, maka pembelajaran berkelompok (kooperatif) merupakan pilihan yang tepat untuk diterapkan. Suasana pembelajaran yang dinamis dan demokratis tersebut pada akhirnya diharapkan mampu membentuk kultur dan budaya sekolah yang dinamis dan demokratis. &lt;/p&gt;  &lt;h3&gt;C. Simpulan&lt;/h3&gt;  &lt;p&gt;Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : (1) Penggunaan pembelajaran kooperatif sangat efektif untuk meningkatkan aktivitas pembelajaran sehingga mampu menumbuhkan suasana pembelajaran yang dinamis dan demokratis. (2) Dengan menggunakan pembelajaran kooperatif mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa tentang sikap dan perilaku demokratis, yang pada akhirnya mampu mengembangkan sebuah kultur sekolah yang dinamis dan demokratis. &lt;/p&gt;  &lt;h4&gt;&lt;/h4&gt;  &lt;h4&gt;&lt;/h4&gt;  &lt;h4&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/h4&gt;  &lt;p&gt;Depdiknas, 2003, &lt;i&gt;Pedoman Penciptaan Suasana sekolah yang kondusif dalam rangka pembudayaan&lt;/i&gt;, Jakarta, Dirjen Dikdasmen Depdiknas&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Depdiknas, 2003, &lt;i&gt;Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;Nasional&lt;/i&gt;, Jakarta, Depdiknas&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Depdiknas, 2004, &lt;i&gt;Wawasan dan Pengembangan Profesi guru (PS53)&lt;/i&gt;, Jakarta, Depdiknas&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Legawa, I Wayan, 2003, &lt;i&gt;Profesi Keguruan, &lt;/i&gt;Jakarta, Depdiknas&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Nur, Muhammad, 2005, &lt;i&gt;Guru yang berhasil dan model pengajaran langsung&lt;/i&gt;, Jakarta, Depdiknas&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Roestiyah.N.K., 1998, &lt;i&gt;Didaktik Metodik&lt;/i&gt;, Jakarta, Bhumi Aksara&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8325156589679679494-4352756335524222984?l=dharmapendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmapendidikan.blogspot.com/feeds/4352756335524222984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dharmapendidikan.blogspot.com/2011/03/upaya-meningkatkan-pembelajaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8325156589679679494/posts/default/4352756335524222984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8325156589679679494/posts/default/4352756335524222984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmapendidikan.blogspot.com/2011/03/upaya-meningkatkan-pembelajaran.html' title='Upaya Meningkatkan Pembelajaran Kooperatif Untuk Menciptakan Kultur Sekolah Yang Dinamis Dan Demokratis'/><author><name>h4r1</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00647801599684162772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-jjV8jS_PCC8/TYP1Nytc5RI/AAAAAAAAAAY/0Woktzjo4EM/s220/DSCN0805.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh5.ggpht.com/_Ekonvgqkc58/TY-4-7vCSzI/AAAAAAAAAJ0/JoLnX58ySkk/s72-c/Juminto_thumb%5B2%5D.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8325156589679679494.post-7865771610140080558</id><published>2011-03-28T04:57:00.001+07:00</published><updated>2011-03-28T04:58:02.526+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arikel'/><title type='text'>Profesionalisme Guru Dan Paradigma Baru Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan</title><content type='html'>&lt;div class="wlWriterHeaderFooter" style="float:none; margin:0px; padding:4px 0px 4px 0px;"&gt;&lt;iframe src="http://www.facebook.com/widgets/like.php?href=http://dharmapendidikan.blogspot.com/2011/03/profesionalisme-guru-dan-paradigma-baru.html" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; width:450px; height:80px"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;h4&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_Ekonvgqkc58/TY-y2Ac5OLI/AAAAAAAAAJo/5idhsiHa3j8/s1600-h/Vera%20Septi%20Andrini%5B4%5D.jpg"&gt;&lt;img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 10px 4px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="Vera Septi Andrini" border="0" alt="Vera Septi Andrini" align="left" src="http://lh6.ggpht.com/_Ekonvgqkc58/TY-y3j4AmEI/AAAAAAAAAJs/V8QsayanjE4/Vera%20Septi%20Andrini_thumb%5B2%5D.jpg?imgmax=800" width="180" height="214" /&gt;&lt;/a&gt; Oleh : Vera Septi Andrini&lt;/h4&gt;  &lt;h4&gt;&lt;/h4&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Abstrak : &lt;/b&gt;Kualitas pendidikan hanya dapat meningkat bila para pemakai jasa pendidikan (orang tua murid) sudah berani mempertanyakan keprofesionalan para pendidik serta bila penyelenggaraan pendidikan sudah dikelola oleh guru yang profesional, yitu guru yang memiliki kompetensi tertentu sesuai dengan persyaratan yang dituntut oleh profesi keguruan. profesionalisasi juga berkaitan dengan living realisties yang berpengaruh terhadap keberhasilan kita mendidik tenaga-tenaga profesional; sumber daya manusia, sarana, iklim politik, dan berbagai unsur di dalam &lt;i&gt;ecosystem&lt;/i&gt; pendidikan yang harusnya diperhitungkan di dalam mencapai tujuan. membangun masyarakat belajar diperlukan empat pilar belajar yaitu; &lt;i&gt;learning to learn&lt;/i&gt; (belajar cara belajar), &lt;i&gt;learning how to do&lt;/i&gt; (belajar apa yang dikerjakan), &lt;i&gt;learning how to live together&lt;/i&gt; (belajar cara hidup bersama), dan &lt;i&gt;learning how to be&lt;/i&gt; (belajar menjadi diri sendiri). Guru memperhatikan karakteristik peralihan paradigma, dari paradigma lama ke paradigma baru, dari tingkat profesionalisme yang rendah ke profesionalisme yang tinggi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h4&gt;Kata Kunci : Profesionalisme Guru, Mutu Pendidikan&lt;/h4&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;A. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan pada tahap manapun dalam perjalanan hidupnya. Pendidikan dapat diperoleh baik melalui jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah. Peningkatan dan pemerataan pendidikan merupakan salah satu aspek pembangunan yang mendapat prioritas utama dari Pemerintah Indonesia. Sistem Pendidikan Nasional yang sekarang berlaku diatur melalui Undang-Undang Pendidikan Nasional.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Permasalahannya, adakah jaminan bahwa kenaikan tunjangan akan secara signifikan meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas anak didiknya. Bukankah selama ini mereka mengkambinghitamkan minimnya tingkat kesejahteraan sebagai penyebab rendahnya kualitas dan kinerja mereka?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hasil inovasi pendidikan dan segala kementerengan laboratorium dan sarana belajar jika tidak ada guru yang berkualitas akan sia-sia saja. Kesalahan serius bangsa yang menyebabkan rakyat lapar dan kurang berpendidikan juga disebabkan dosa kita, karena pendidikan bisa melahirkan pemimpin yang berjiwa guru. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Proses belajar mengajar di sekolah bersifat sangat kompleks, karena di dalamnya terdapat aspek pedagogis, psikologis, dan didaktis. Aspek pedagogis merujuk pada kenyataan bahwa belajar mengajar di sekolah terutama di sekolah dasar berlangsung dalam lingkungan pendidikan dimana guru harus mendampingi siswa dalam perkembangannya menuju kedewasaan, melalui proses belajar mengajar di dalam kelas. Guru harus menentukan metode yang paling efektif untuk proses belajar mengajar tertentu sesuai dengan tujuan instruksional. yang harus dicapai. Demikian pula dengan kondisi eksternal belajar yang harus diciptakan oleh pengajar, sangat bervariasi. Dalam hal ini guru sangat berperan dalam menentukan cara yang dianggap efektif untuk membelajarkan siswa, baik di sekolah maupun di luar jam sekolah, dengan kata lain, prestasi belajar siswa sangat ditentukan oleh cara mengajar guru yang akan menciptakan kebiasaan belajar pada. siswa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;B. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Pembahasan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;1. Kualitas dan Profesionalisme Guru&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Harus diakui bahwa guru merupakan faktor utama dalam proses pendidikan. Meskipun fasilitas pendidikannya lengkap dan canggih, namun bila tidak ditunjang oleh keberadaan guru yang berkualitas maka mustahil akan menimbulkan proses belajar mengajar yang maksimal. Di sinilah masalah besar dunia pendidikan di Indonesia. Sudah fasilitas pendidikannya sangat memprihatinkan, gurunya pun tidak berkualitas, apalagi profesional.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila berbicara tentang &amp;quot;kualitas&amp;quot; guru, beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa ada lima faktor yang sangat mempengaruhinya, yaitu adanya kewenangan yang benar-benar diserahkan kepada guru, kualitas atasan dalam mengawasi dan mengontrol perilaku guru, kebebasan yang diberikan kepada guru (baik di dalam maupun di luar kelas), dan hubungan guru dengan muridnya, pengetahuan guru (yang akan mempengaruhi kepercayaan dirinya). &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;Bagaimanakah kondisinya di Indonesia?&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentang kewenangan guru, jangankan untuk yang bersifat birokratif, untuk yang bersifat edukatif saja, mereka tidak mempunyai kewenangan (atau keberanian?) untuk memutuskan (apalagi menolak). Guru hanya berperan sebagai pelaksana. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentang kebebasan bagi guru, sangatlah minim. Hal ini tercermin dari keberadaan kurikulum (sebagai acuan pencapaian materi pelajaran) yang berlaku nasional. Di satu sisi, memang dapat mempersempit selisih kualitas antara murid yang di Jawa dan yang di luar Jawa. Namun, di sisi lain membuat guru tidak berani berkreasi karena ada kemungkinan tidak sesuai dengan kurikulum. Hal ini dianggap akan merugikan murid sebab akan memengaruhi peluangnya dalam memperoleh nilai yang baik yang masih menjadi tujuan akhir dari sistem pendidikan di tiap jenjang di negeri ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentang hubungan guru dengan muridnya kian hari kian renggang. Dulu, mereka begitu mengerti kondisi dan perkembangan muridnya. Namun kini, jam kerja guru terpaku oleh waktu, lebih dari jam tersebut dianggap sebagai tambahan pelajaran sehingga perlu perhitungan biaya tertentu. Kondisi ini diperparah oleh adanya perubahan gaya hidup anak muda yang kian &amp;quot;santai&amp;quot; dalam bersopan santun terhadap guru. Di sisi lain, akibat merebaknya akses informasi membuat murid &amp;quot;merasa lebih tahu&amp;quot; daripada gurunya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selain itu, juga belum ada peraturan di bidang pendidikan yang secara tegas mengharuskan guru untuk meningkatkan kualitas pengajarannya sesuai dengan standar yang ditentukan, yang ada barulah berupa himbauan saja. Keberadaan peraturan seperti ini akan memberikan konsekuensi bila seorang guru tidak mampu meningkatkan kualitas diri serta anak didiknya. Bukannya seperti saat ini dengan cara guru memberikan les-les privat pada segelintir murid yang selain menimbulkan kecemburuan, menambah beban/pengeluaran orang tua, juga memperlihatkan tidak adanya rasa tanggung jawab moral dari guru terhadap anak didiknya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kualitas pendidikan hanya dapat meningkat bila para pemakai jasa pendidikan (orang tua murid) sudah berani mempertanyakan keprofesionalan para pendidik serta bila penyelenggaraan pendidikan sudah dikelola oleh guru yang profesional, yitu guru yang memiliki kompetensi tertentu sesuai dengan persyaratan yang dituntut oleh profesi keguruan. Apa persyaratannya? Dalam bukunya &lt;i&gt;Education and Theacher, &lt;/i&gt;BJ Chandler mengemukakan beberapa hal yang harus ada apabila kegiatan mengajar ingin dianggap sebagai suatu profesi yaitu lebih mementingkan layanan daripada kepentingan pribadi, mempunyai status yang tinggi, memiliki pengetahuan yang khusus, memiliki kegiatan intelektual, memiliki hak untuk memperoleh standar kualifikasi profesional, dan mempunyai etik profesi yang ditentukan oleh organisasi profesi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jelaslah bahwa untuk menjadi seorang guru yang berkualitas dan profesional itu tidaklah mudah. Apalagi bila tidak didukung oleh kondisi yang kondusif (tingkat kesejahteraan yang memadai dan mekanisme kontrol proses pendidikan yang efektif). Karena itu, marilah kita semua (pemerintah), orang tua, masyarakat, lembaga hukum, institusi pendidikan, dan sebagainya) berupaya memperbaiki diri guna tercapainya tuntutan akan kualitas dan profesionalisme guru. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Memang profesionalisme bukanlah sebuah istilah baku. Juga bukan berharga mati. Profesionalisme adalah konsep yang dinamis, berkembang sepanjang masa. Dengan itu kita harus mengerti bahwa adalah tidak mungkin untuk menetapkan standar profesi yang berlaku sepanjang masa, di dalam keadaan yang bagaimanapun. Persyaratan menjadi guru yang baik lima puluh tahun yang lalu, berbeda dari sekarang, dan ada alasan untuk meramalkan bahwa persyaratan itu akan berubah lagi lima puluh tahun dari sekarang. Tetapi janganlah berhitung dalam jarak lima puluh tahun. Terlalu lama. Di setiap saat, profesionalisme berlangsung terus, karena profesionalisme adalah suatu proses dengan ujung atau pucuk terbuka, yang selalu terjadi, dan yang terjadi terus menerus, tidak pernah benar-benar selesai. Arti-nya, apabila profesionalisasi berjalan terus sebagaimana seharusnya, maka yang kita peroleh adalah hasil yang semakin hari semakin baik, semakin hari semakin lebih profesional. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tetapi kalau profesionalisasi adalah konsep yang begitu dinamis, bagaimana kita dapat mengamati atau menilai bahwa kita telah sampai pada tahap yang &lt;i&gt;acceptable&lt;/i&gt;, dan yang sekaligus &lt;i&gt;improvable&lt;/i&gt;? Inilah sisi lain lagi dari masalah profesionalisasi di bidang kependidikan. Profesionalisasi, sebagai sebuah proses, terjadi di dalam sebuah konteks yang riil, bukan di dalam ruang hampa. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Profesionalisasi berkaitan dengan apa yang kita percayai sebagai tujuan yang semestinya kita capai. Dengan serangkaian tujuan yang jelas, kita kemudian dapat mengidentifikasi berbagai indikator keberhasilan. Dan dengan itu akan lebih mudah kita memahami wujud profesionalisme yang dikehendaki. Tetapi profesionalisasi juga berkaitan dengan living realisties yang berpengaruh terhadap keberhasilan kita mendidik tenaga-tenaga profesional; sumber daya manusia, sarana, iklim politik, dan berbagai unsur di dalam ecosystem pendidikan yang harusnya diperhitungkan di dalam mencapai tujuan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tidak dapat dinaifkan bahwa memang tidak mudah merumuskan dan menggambarkan profil seorang guru profesional. Apakah mungkin karena itu, maka kita tidak dapat menemukan guru yang memenuhi syarat profesionalisme? Tidak. Bukan karena itu, masih banyak guru yang berhati guru dan berjiwa guru. Masih banyak guru yang hidup dan matinya diberikan kepada tugasnya mendidik anak bangsa. Masih banyak guru yang berpotensi profesional. Tetapi dunia sekeliling guru tidak memahami potensi itu. Dunia sekeliling guru masih terlalu banyak berwatak anti profesionalisme. Watak birokrasi misalnya, masih terlalu kental sebagai watak yang tidak menghormati karena tidak memahami hakikat profesionalisme. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Keadaan yang anti profesionalisme itulah yang justru mencemari dan memudarkan hasil usaha dan keberhasilan guru-guru yang menerima profesi pendidikan sebagai panggilan hidup. Mereka ada di sekeliling kita. Dan kalau kita cermat, kita mungkin dapat mengenalnya apabila kita bertemu dengan guru serupa itu. Perhatikanlah sekeliling Anda. Lihatlah guru itu, yang telah menyelesaikan dengan baik pendidikan profesionalnya dari sebuah lembaga pendidikan guru. Pada tahun-tahun awal sejak dia pertama kali menjadi guru, tidak banyak yang istimewa yang tampak di dalam guru itu. Bahkan penampilan awalnya sama saja dengan guru-guru yang lain. Bukan tidak kompeten, tetapi tidak ada keistimewaan apa pun yang tampak dari luar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;2. Penghargaan Profesi &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kita belum terlambat untuk memulihkan krisis dengan memprioritaskan pembangunan pendidikan dengan fokus peningkatan etika moral. Namun, yang perlu diperhatikan adalah mendongkrak citra guru agar penghargaan profesionalitasnya sederajat dengan profesi dokter dan insinyur. Kalau dokter hanya menangani beberapa pasien, insinyur menangani beberapa tukang dan tenaga teknis, tetapi guru mendidik dan mengobati ribuan anak. Karena itu, beberapa upaya berikut ini perlu dilakukan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, lembaga pendidikan guru harus bisa merekrut calon guru dengan memberi beasiswa dalam jumlah banyak, diasramakan dan dijamin pengangkatan status kepegawaiannya, sama seperti perekrutan tentara. Untuk merealisasi hal itu, di negeri ini tidak perlu terlalu banyak penyelenggara LPTK. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, pemerintah harus beritikad baik untuk meningkatkan anggaran pendidikan, khususnya dalam memberi kesejahteraan guru dan penyediaan sarana belajar. Sebab, standar penggajian guru selama ini lebih rendah dibandingkan dengan seorang &lt;i&gt;cooker&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;teller&lt;/i&gt; bank. Bagaimana mungkin guru akan bisa membeli buku, berlangganan koran, memainkan komputer, menelepon teman/siswa, naik motor ke sekolah, kalau tidak ada sarana pemberdaya untuk mencapai keinginan itu. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, dosen-dosen di LPTK harus dilibatkan dalam pembenahan manajemen sekolah, termasuk melakukan pengawasan. Sebab keterpurukan sekolah dan penderitaan guru disebabkan tidak ada advokasi sejawat mereka yang memiliki ''nyali'' untuk melakukan reformasi dan perubahan. Stres guru akibat berbagai pemotongan gaji, tekanan-tekanan politik untuk menjadi anggota parpol tertentu dan ketidakberdayaan ekonomi belum pernah mendapatkan pembelaan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;Keempat&lt;/i&gt;, Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) harus bisa mengupayakan sosial ekonomi guru diberdayakan supaya mereka memiliki motivasi dalam mengajar. Kini perlu bahwa guru berani menolak berbagai bentuk pemotongan yang tidak berkaitan dengan upaya profesionalitas. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;3. Kredibilitas Profesional Guru&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejauh ini, pendidikan masih diyakini merupakan kunci pengembangan kualitas sumber daya manusia. Namun, masih banyak ditemukan persoalan dalam dunia pendidikan, mulai dari masalah pemerataan, kebijakan yang belum mampu menjawab tantangan dan kebutuhan, sampai soal mutu yang rendah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam mengurai dan mencari pemecahan masalah itu, guru acap dituding sebagai biang kerok. Kualitas guru yang rendah dan guru yang tidak profesional kerap dikaitkan dengan keterpurukan pendidikan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di banyak negara, sosok guru merupakan sosok invisible yang dianggap diperlukan tetapi selalu tersisih, tak terperhatikan, dan tersembunyi di balik tembok sekolah. Juga di Indonesia, guru adalah sosok &amp;quot;Pahlawan Tanpa Tanda Jasa&amp;quot;, karena sebagai sebuah profesi, jasa guru tidak mendapatkan penghargaan selayaknya. Itulah sekilas gambaran sosok guru saat ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Citra guru demikian akan terasa kontradiktif jika dibanding citra guru pada masa prakemerdekaan atau awal kemerdekaan. Pada masa itu, guru dipandang dan diperlakukan bukan hanya sebagai pendidik yang pantas digugu lan ditiru, tetapi juga pemimpin masyarakat yang dihormati dan disegani. Status ekonominya relatif tinggi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hal itu tidak terlepas dari imbal jasa yang memadai dan kredibilitas profesional guru di mata masyarakat yang tinggi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Secara politis guru juga dibutuhkan oleh pemerintah, baik pada masa penjajahan maupun awal kemerdekaan. Demikian pula pada masa itu masih sedikit orang yang berprofesi sebagai guru, sementara profesi-profesi lain belum banyak berkembang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Memudarnya citra profesi guru saat ini, tidak lepas dari pengaruh beberapa variabel yang saling mengait satu dengan lainnya. Dewasa ini penghargaan terhadap guru, secara struktural oleh pemerintah maupun masyarakat, masih rendah. Terjadi ambiguitas dari masyarakat dan pemerintah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di satu sisi mengakui peran penting pendidikan dalam pengembangan sumber daya manusia, di sisi lain penghargaan terhadap profesi guru tidak sepadan dengan tugas dan tanggung jawabnya. Gaji guru, meski sudah ada usaha dari pemerintah untuk menaikkannya, tetap saja tergolong rendah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rendahnya kualitas dan kompetensi guru juga menjadi penyebab merosotnya citra profesi guru. Status okupasional guru yang relatif rendah membuat profesi guru tidak lagi menjadi pilihan utama, sehingga banyak generasi muda yang tidak berminat menjadikan guru sebagai pilihan profesinya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Input yang dimiliki tenaga kependidikan relatif rendah tingkat intelektualnya dibanding input nonkependidikan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Anak yang prestasi akademiknya baik, hampir tidak ada yang mau menjadi guru. Akibatnya output yang dihasilkan juga rendah kualitasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di sisi lain kompetensi guru, baik kompetensi personal, sosial, maupun profesional masih belum memadai. Ini dapat dilihat dari kurangnya kematangan emosional dan kemandirian berpikir, lemahnya motivasi dan dedikasi, serta lemahnya penguasaan bahan ajar dan cara pengajaran yang kurang efektif.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sistem pendidikan guru yang kurang sistematis dan semrawut yang ditunjukkan dengan kurang terkoordinasinya pengadaan, pemanfaatan, dan pembinaaan profesi guru, secara tidak langsung ikut berperan menurunkan citra profesi guru.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pengadaan guru secara massal yang kurang mempertimbangkan standar kualitas, tidak berimbangnya antara jumlah guru yang dihasilkan dengan kebutuhan di lapangan, serta minimnya pembinaan sebagai upaya peningkatan profesionalisme guru, mengakibatkan profesi guru tidak dipandang sebagai profesi yang istimewa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Profesi ini dianggap tidak menuntut keahlian yang khas, sehingga kurang memiliki &amp;quot;nilai jual&amp;quot;. Profesi guru dianggap sebagai profesi yang mudah dan murah. Kesannya setiap orang bisa menjadi guru, asalkan mau.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pudarnya citra profesi guru juga disebabkan kurang efektifnya organisasi profesi guru dalam melindungi dan mengembangkan profesionalisme guru.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Organisasi profesi guru, seperti PGRI dan ISPI, kurang berdaya dalam mengembangkan ilmu pendidikan seperti yang dituntut masyarakat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selain itu dalam melindungi hak-hak anggotanya organisasi itu kurang berperan secara optimal. Tidak banyak advokasi yang dilakukan untuk memperjuangkan hak-hak para guru. Guru pun sering menjadi pihak yang termajinalkan ketika berhadapan dengan pemerintah atau yayasan bagi guru swasta.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Untuk mengembalikan citra profesi guru yang kini merosot bukan perkara mudah. Dibutuhkan komitmen dan konsistensi dari banyak pihak; guru sendiri, organisasi guru, pemerintah, dan masyarakat. Usaha peningkatan kesejahteraan guru dengan kenaikan gaji harus terus didesakkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagaimanapun persoalan ekonomi yang dihadapi guru amat mempengaruhi kinerja dan profesionalitas guru.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah telah mengupayakan peningkatan kesejahteraan guru, seperti kenaikan tunjangan guru sebesar 50 persen per Oktober 2002.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Namun, banyak yayasan swasta yang tidak mampu memberikan tunjangan seperti yang sudah ditetapkan. Juga masih banyak guru negeri dalam kenyataannya tidak menerima tunjangan seperti yang ditetapkan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setiap profesi menuntut adanya suatu standar kompetensi, standar moral, dan tanggung jawab tertentu yang harus dijaga demi citra dan kredibilitas profesi itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seiring perkembangan zaman, peran guru mengalami perubahan, dari pembentukan wawasan serta pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan pada abad industri, menjadi fasilitator pembelajaran yang merupakan tuntutan abad informasi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Perubahan ini tidak berarti tugas dan tanggung jawab guru menjadi lebih ringan. Karena guru tetap memiliki tanggung jawab dalam pembentukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap-nilai dari proses pembelajaran yang berlangsung, serta bertanggung jawab untuk berpartisipasi secara nyata dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan secara utuh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hal ini menuntut peningkatan kualitas dan kompetensi dari para guru, dengan terus-menerus memperbarui diri, mengupgrade dirinya sesuai tuntutan zaman.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Juga untuk memperbaiki kualitas output-nya, lembaga pendidikan guru harus membenahi strukturnya, dengan membuat terobosan-terobosan baru yang secara tidak langsung akan membantu meningkatkan citra profesi guru.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rendahnya status guru tidak semata-mata ditentukan lembaga pendidikan guru, tetapi lembaga pendidikan guru yang bermutu tinggi akan menjadi salah satu mata rantai yang menentukan dalam upaya peningkatan citra profesi guru secara keseluruhan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Usaha terus-menerus dari para guru untuk meningkatkan kualitas, kompetensi, dan profesionalitasnya, dan dengan political will pemerintah untuk menghargai profesi guru, menata dan mengelola lembaga pendidikan guru agar dapat menjaring calon guru bermutu dan menghasilkan output yang berkualitas, serta berfungsinya organisasi profesi guru secara efektif dalam melindungi dan memberdayakan guru, bersama-sama akan dapat mengangkat kembali citra profesi guru.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;4. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Beberapa Karakteristik Pendidikan Dalam Era Globalisasi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada dasarnya modernisasi merupakan suatu periode waktu dan dengan suatu lokasi geografis, dimana karakteristik utama dari proses ini tidak terungkap. Pada mulanya, terminologi ini muncul sebagai akibat upaya sekelompok ahli pembangunan di Amerika Serikat untuk mengembangkan suatu alternatif terhadap pendekatan Marxis mengenai pembangunan sosial. Dari sudut pandang sosiologi, teori modernisasi menjelaskan modernisasi dengan merujuk pada awal mula dari proses yang disebutkan Talcott Parsons sebagai differensiasi struktural. Ini adalah proses yang dapat didorong oleh berbagai cara, namun yang sangat mungkin disebabkan oleh perkembangan teknologi atau nilai-nilai. Sebagai akibat dari proses ini, lembaga/institusi berlipat ganda, struktur yang sederhana dari masyarakat tradisional ditransformasikan ke dalam struktur yang kompleks dari masyarakat modern, dan nilai-nilai berkembang. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam alur berpikir ini, maka modernisasi dapat dilihat baik sebagai proses maupun suatu keadaan. Dan lazimnya keadaan modern dilihat sebagai lawan dari keadaan tradisional. Pendekatan ini banyak mempengaruhi pendekatan pembangunan yang diterapkan oleh banyak negara, khususnya negara yang sedang berkembang seperti Indonesia dengan pendekatan tinggal landasnya. Kalau kita mencermati karakteristik masyarakat modern, maka nyatalah bahwa terdapat pula karakteristik tradisional di dalamnya, demikian pula sebaliknya. Dengan demikian referensi waktu dan tempat tidaklah tepat untuk membedakan tradisional dan modern; yang sesuai ialah pemahaman secara kontekstual. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan demikian, untuk memahami hal-hal ini tidak cukup dengan sekedar menciptakan terminologi baru seperti pasca modernisasi dan sebagainya, akan tetapi lebih tepat kalau kita menelaah kembali hakikat dari modernisasi itu sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Demikianlah dengan perubahan dalam kehidupan masyarakat yang berkembang dengan sangat pesat, maka muncullah pendapat bahwa era yang akan kita hadapi dalam abad mendatang adalah era globalisasi, sebagai &amp;quot;... &lt;em&gt;the compression of the world and the intensification of consciousness of the world as a whole&lt;/em&gt;&amp;quot;. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berikut ini akan diuraikan beberapa karakteristik utama globalisasi yang berkaitan dengan pendidikan, atau dengan perkataan lain yang merupakan peluang dan tantangan bagi pendidikan. (a) Sebagaimana telah diuraikan di atas, globalisasi menyangkut seluruh aspek kehidupan masyarakat dan individu anggota masyarakat. Globalisasi menyangkut kesadaran baru mengenai dunia sebagai satu kesatuan. Interaksi dan saling tergantungan yang semakin besar dalam era baru perlu dijawab dengan tepat. Kurikulum pendidikan dan proses belajar-mengajar seyogianya mampu mengisi peluang ini serta menjawab tantangan yang ditimbulkannya. (b) Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan tinggi Indonesia maka pelaksanaan Tridharma perguruan tinggi seyogyanya dilaksanakan dengan benar dalam suasana yang kondusif untuk pengembangannya. Dharma yang pertama masih perlu terus dikembangkan pelaksanaannya, termasuk didalamnya adalah pemanfaatan satuan acara perkuliahan yang rinci serta variasi metode belajar mengajar yang dipergunakan. Salah satu persyaratan utama untuk ini adalah para tenaga pengajar harus tekun dan memiliki motivasi yang tinggi untuk secara terus-menerus menyempurnakan materi perkuliahannya. Dharma yang kedua, penelitian, masih sangat perlu untuk ditingkatkan. Wajarlah jika para tenaga pengajar terus-menerus memperjuangkan pelaksanaan penelitian dalam pengembangan karirnya. Satu hal yang nampaknya sangat penting untuk dikembangkan adalah &lt;em&gt;budaya penelitian&lt;/em&gt;. Seringkali penelitian di kalangan tenaga pengajar dilakukan hanya sebagai bagian dari satu pekerjaan proyek. Kondisi sedemikian tidaklah mendukung terciptanya &lt;em&gt;budaya penelitian&lt;/em&gt; ini. Melaksanakan penelitian dalam suatu budaya penelitian yang benar akan membawa kepada penerapan manajemen penelitian yang baik. Dan pada gilirannya hasil penelitian tersebut akan mampu menjadi rekomendasi yang potensial dimanfaatkan oleh penentu kebijakan. &lt;em&gt;Research&lt;/em&gt;&lt;em&gt; University&lt;/em&gt; baru merupakan target bagi beberapa perguruan tinggi yang besar di Indonesia. Sedangkan bagi iklim pendidikan tinggi di negara-negara industri, konsep ini telah dilampaui dan sekarang target yang dipandang sesuai dengan perkembangan yang ada ialah &lt;em&gt;service university&lt;/em&gt;. Konsep ini menyangkut keterkaitan yang erat diantara lembaga pendidikan tinggi dengan dunia usaha. Dengan perkataan lain, perguruan tinggi dapat tumbuh dan berkembang didalam era globalisasi dengan memanfaatkan peluang-peluang yang ada didalam dunia bisnis. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sehubungan dengan itu, perlu disadari bahwa tamatan perguruan tinggi di Indonesia tidak hanya cukup memiliki pengetahuan kognitif yang tinggi, akan tetapi perlu dilengkapi dengan sikap dan perilaku inovatif. Terdapat kecenderungan bahwa hal-hal yang bersifat konvensional dan tradisional tidak mendapat tempat lagi didalam era globalisasi. Teknologi membuat keterampilan dan pengetahuan sebagai satu-satunya sumber keuntungan strategis yang berkelanjutan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;5. Paradigma Baru dalam Pendidikan &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dewasa ini banyak orang mengeluhkan rendahnya mutu pendidikan, khususnya di tingkat pendidikan dasar. Indikatornya antara lain dilihat dari kecenderungan menurunnya nilai Ebtanas murni (NEM), terutama pada mata pelajaran matematika dan IPA, dan IPS. Karena itu mulailah kita mencari kambing hitam dari realitas semacam itu. Kecenderungan menurunnya mutu pendidikan dikaitkan dengan kurangnya jumlah guru di SD, rendahnya tingkat pendidikan mereka, dan terlalu saratnya muatan kurikulum. Karena itu muncul pula gagasan dari berbagai kalangan agar segera diadakan reformasi kurikulum.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Manajemen pendidikan masa depan yang diimpikan oleh Depdiknas adalah sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya. Pengambilan keputusan akan dilakukan secara partisipatif dan partisipasi masyarakat semakin besar. Sekolah akan lebih luwes dalam mengelola lembaganya, pendekatan profesionalisme akan lebih diutamakan dari pada pendekatan birokratik, pengolalaan sekolah akan lebih desentralistik, perubahan sekolah akan lebih didorong oleh motivasi diri sekolah dari pada diatur dari luar sekolah, regulasi pendidikan lebih sederhana, peranan pusat bergeser dari mengontrol menjadi mengelola risiko, meningkatkan manajemen yang lebih efisien, akan lebih mengutamakan team work, informasi akan terbagi ke semua kelompok kepentingan sekolah akan lebih mengutamakan pemberdayaan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Proses pembelajaran di kelas selama ini telah memposisikan guru sebagai pihak yang super (kuat), sedangkan siswa barada pada posisi under (lemah), tidak berdaya yang harus menelan mentah-mentah apa yang diberikan guru. Kondisi seperti itu kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan dirinya secar optimal. Sebagai dampaknya adalah siswa merasa tidak betah belajar dan tidak nikmat berada di lingkungan sekolah. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Memasuki era demokratisasi, landasan pembelajaran yang harus kita kembangkan adalah konsep pemberdayaan belajar siswa. Membangun masyarakat belajar adalah sebuah tuntutan apabila kita ingin memberdayakan siswa dalam belajar. Menurut Kohlberg, dalam membangun masyarakat belajar diperlukan empat pilar belajar yaitu; &lt;i&gt;learning to learn&lt;/i&gt; (belajar cara belajar), &lt;i&gt;learning how to do&lt;/i&gt; (belajar apa yang dikerjakan), &lt;i&gt;learning how to live together&lt;/i&gt; (belajar cara hidup bersama), dan &lt;i&gt;learning how to be&lt;/i&gt; (belajar menjadi diri sendiri). &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melalui penciptaan situasi pembelajaran yang nikmat (enjoyble learning), akan mampu mendorong motivasi dan minat belajar, serta mampu memberdayakan siswa. Memberdayakan mengandung arti siswa tidak sekedar menguasai pengetahuan yang diajarkan gurunya, tetapi pengetahuan tersebut telah menjadi muatan nurani siswa, dihayati, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam memasuki era desantralisasi dan demokratisasi pendidikan, ada hambatan sistemik yang harus ditinggalkan. Antara lain, pertama, paradigma penyeragaman atau keteraturan (sentralisasi) telah merasuki dunia pendidikan kita. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara dalam proses pembelajaran di kelas, sebagaian besar guru masih memperlakukan siswa sebagai obyek, bukan sebagai subyek. Pandangan bahwa guru sebagai satu-satunya tempat untuk melegimitasi nilai-nilai kebaikan dan kebenaran masih sangat melekat dalam benak guru. Sehingga sesuatu yang baik dan benar menurut siswa, akan menjadi salah bila tidak sesuai dengan pendapat/pandangan guru. Jadi, menurut pandangan ini, nilai kebaikan dan kebenaran bersifat relatif tergantung apa kata guru. Hal ini bertentangan dengan konsep pemberdayaan siswa dalam belajar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mengacu pada hal tersebut di atas, upaya-upaya pemberdayaan guru dapat dilakukan dengan cara antara lain sebagai berikut: &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, pengembangan karier. Kesempatan untuk promosi terbuka disertai kejujuran dalam pelaksanaannya akan merangsang motivasi guru melaksanakan tugasnya. Posisi yang dapat dicapai oleh guru juga dikembangkan, khususnya untuk posisi yang diperebutkan dengan persyaratan ketat, misalnya kepala sekolah, pengawas, guru inti (instruktur) dan sebagainya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt; peningkatan mutu guru. Para guru dituntut meningkatkan kemampuannya atas prakarsa sendiri dan sekolah tempat mereka bertugas yang kemudian mendapat dukungan dari pemerintah. Peningkatan mutu, pertama-tama dikaitkan dengan peningkatan kualifikasi untuk memenuhi persyaratan sebagai guru, baik melalui penataran maupun studi lanjut. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, mengatasi beban psikologis dengan cara merampingkan beban kurikulum tanpa mengurangi target kurikulum untuk jenjang pendidikan yang sesuai. Para peserta didik harus ditumbuhkan bahwa belajar proses yang menyenangkan, dan guru juga harus dikembangkan keyakinan bahwa mengajar pekerjaan menyenangkan. Terhadap kurikulum yang diberlakukan, guru diberi kesempatan mengembangkan prakarsanya sendiri untuk mencapai target kurikulum. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;Keempat&lt;/i&gt;, peningkatan kesejahteraan. Penghasilan guru diupayakan semakin meningkat sehingga dapat memenuhi kebutuhan minimal. Dengan dipenuhinya kebutuhan minimal ini dapat lebih berkonsentrasi pada tugasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Guru memperhatikan karakteristik peralihan paradigma, dari paradigma lama ke paradigma baru, dari tingkat profesionalisme yang rendah ke profesionalisme yang tinggi. Yang saya sarankan ialah: &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;a. Peralihan paradigma dari yang terlalu berorientasi ke masa lalu ke paradigma yang berorientasi ke masa depan. Guru dengan karakteristik profesional yang demikian, akan mengajar dengan lebih banyak menggunakan bahasa harapan masa depan, dan bukan bahasa nostalgia masa lalu. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;b. Peralihan dari paradigma pendidikan yang hanya mengawetkan kemajuan, ke paradigma pendidikan yang merintis kemajuan. Guru dengan orientasi profesional demikian, akan merangsang anak didiknya untuk mencari jawaban, untuk meneliti masalah, dan mengembangkan sendiri berbagai informasi baru. Dia tidak secara dogmatis atau indoktriner memaksakan informasi usang yang sudah tidak berharga apa-apa di dalam kehidupan anak didik. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;c. Peralihan paradigma dari yang berwatak feodal ke paradigma pendidikan yang berjiwa demokratis, guru dengan tingkat profesionalisme yang tinggi antara lain, adalah guru yang mampu menghidupkan alam dan kehidupan demokrasi di dalam situasi mengajar dan belajar sebagai sebuah cara hidup. Tanpa kewaspadaan guru, sangat mudah proses itu menjadi &lt;i&gt;feodalistik &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;paternalistik&lt;/i&gt;. Guru adalah lambang &lt;i&gt;democracy in action&lt;/i&gt;, bukan &lt;i&gt;democracy in words&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;d. Peralihan paradigma pendidikan yang terpusat di satu tangan ke seragam, menjadi paradigma pendidikan yang kaya dalam keberagaman, dengan titik berat pada peran masyarakat dan anak didik. Di sini, guru bertanggung jawab, lebih masalah sebelumnya, sebagai pengelola proses belajar dan mengajar. Profesionalisme guru yang tinggi, akan menciptakan kemandirian lembaga. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Peralihan paradigma tersebut pasti memakan waktu; jauh lebih mudah membicarakan dari pada merealisasikannya. Sektor pendidikan kita tergolong sebagai sektor yang sangat tidak peka pada tuntutan perubahan. Tetapi, sebagai bagian reformasi, kita tidak dapat menangguhkan terjadinya proses itu berlama-lama karena sudah terdapat banyak petunjuk bahwa salah satu sebab utama keterbelakangan kita di dunia pendidikan sekarang adalah karena pendidikan dikembangkan dengan &amp;quot;profesionalisme&amp;quot; yang berdasarkan paradigma yang salah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kita harus menyadari, dan menyadarkan guru-guru pemula, bahwa kalau perhatian kita terfokus hanya kepada sejuta masalah yang kebetulan ada di depan mata, kita sudah pasti kalah perang sebelum turun bertanding! Sebagian besar dari sejuta masalah itu hanyalah akibat, atau hanyalah gejala, atau periferi dari sesuatu yang sudah lebih dahulu wujud, jauh di bawah permukaan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menghabiskan umur semata-mata untuk memerangi masalah itu tidak banyak manfaatnya. Ketika satu masalah kita `bereskan' akan timbul sepuluh masalah yang lain. Kemampuan kita menyelesaikan masalah itu akan dikalahkan oleh kecepatan timbulnya sejumlah masalah baru, setiap saat, dalam berbagai wujud. Kalau begitu, maka bagi kita semua, tugas profesional guru hanya akan berarti tugas memecahkan semua masalah; makin banyak masalah yang kita pecahkan, makin tinggi tingkat keprofesionalan kita. Apa memang begitu?! &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentu saja kita tidak menginginkan masalah. &lt;i&gt;Kalau kita dapat membereskan semua masalah, mengapa tidak? Ya, mengapa tidak! &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;C. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada dasarnya, argumentasi ini menekankan perlunya profesionalisasi dilihat sebagai pengembangan serangkaian paradigma baru di dalam pendidikan, yang antara lain dikaitkan dengan kondisi-kondisi yang akan dan sedang mempengaruhi kehidupan di dunia, yang esensinya harus dapat ditangkap para guru. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tetapi kalau itu yang kita lakukan, kita sudah mulai dari awal bertindak anti profesional. Tidak ada sikap dan tindakan anti profesionalisme yang dapat membangun profesionalisme. Paling-paling, kita akan menjadi `profesional' di dalam bertindak anti profesional. Kita tidak menghendaki itu bukan?dfa &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;DAFTAR RUJUKAN&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;----------, &lt;i&gt;Kompetensi Guru Dalam Implementasi KBK&lt;/i&gt;, &lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0210/25/dikbud/komp09.htm"&gt;Http://Www.Kompas.Com/Kompas-Cetak/0210/25/Dikbud/Komp09.Htm&lt;/a&gt;, &lt;strong&gt;Webpage Diakses Pada 16 Nopember 2002.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;----------, &lt;i&gt;Lima&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Akar Masalah Pendidikan Nasional&lt;/i&gt;, &lt;a href="http://www.pesantrenonline.com/"&gt;Http://www.pesantrenonline.com&lt;/a&gt;, &lt;strong&gt;Webpage Diakses Pada 16 Nopember 2002.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Achmad Sapari, &lt;i&gt;Guru Dan Tantangan Otonomi Pendidikan&lt;/i&gt;, &lt;a href="http://www.otoda.or.id/"&gt;Http://Www.Otoda.Or.Id&lt;/a&gt;, &lt;strong&gt;Webpage Diakses Pada 16 Nopember 2002.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Khoe Yao Tung, &lt;i&gt;Otonomi Pendidikan Dan Kualitas Pendidikan Tinggi&lt;/i&gt;, &lt;a href="http://www.otoda.or.id/"&gt;http://www.otoda.or.id&lt;/a&gt;, &lt;strong&gt;Webpage Diakses Pada 16 Nopember 2002. &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;em&gt;Manasse Malo, &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;Pendidikan Tinggi Di Indonesia Dalam Era Globalisasi&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;, &lt;/strong&gt;&lt;a href="http://www.depdiknas.go.id/balitbang/"&gt;Http://Www.Depdiknas.Go.Id/Balitbang/&lt;/a&gt;, &lt;strong&gt;Webpage Diakses Pada 16 Nopember 2002.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mungin Eddy Wibowo, &lt;i&gt;Guru Dalam Ketidakberdayaan&lt;/i&gt;, &lt;a href="http://www.suaramerdeka.com/"&gt;http://www.suaramerdeka.com&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0111/26/kha1.htm"&gt;&lt;strong&gt;Webpage Diakses Pada 16 Nopember 2002.&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Neni Utami Adiningsih, &lt;i&gt;Kualitas Dan Profesionalisme Guru&lt;/i&gt;, &lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1002/15/index.htm"&gt;Http://Www.Pikiran-Rakyat.Com/Cetak/1002/15/Index.Htm&lt;/a&gt;, Webpage Diakses Pada 16 Nopember 2002.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Suroso, &lt;i&gt;Pemberdayaan Guru Dan Efisiensi Program Pendidikan&lt;/i&gt;, Suara Pembaruan Daily, &lt;strong&gt;Webpage Diakses Pada 16 Nopember 2002.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Winarno Surakhmad, &lt;i&gt;Profesionalisme Dunia Pendidikan&lt;/i&gt;&lt;strong&gt;, &lt;a href="http://www.depdiknas.go.id/"&gt;http://www.depdiknas.go.id&lt;/a&gt;, Webpage Diakses Pada 16 Nopember 2002. &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8325156589679679494-7865771610140080558?l=dharmapendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmapendidikan.blogspot.com/feeds/7865771610140080558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dharmapendidikan.blogspot.com/2011/03/profesionalisme-guru-dan-paradigma-baru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8325156589679679494/posts/default/7865771610140080558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8325156589679679494/posts/default/7865771610140080558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmapendidikan.blogspot.com/2011/03/profesionalisme-guru-dan-paradigma-baru.html' title='Profesionalisme Guru Dan Paradigma Baru Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan'/><author><name>h4r1</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00647801599684162772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-jjV8jS_PCC8/TYP1Nytc5RI/AAAAAAAAAAY/0Woktzjo4EM/s220/DSCN0805.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh6.ggpht.com/_Ekonvgqkc58/TY-y3j4AmEI/AAAAAAAAAJs/V8QsayanjE4/s72-c/Vera%20Septi%20Andrini_thumb%5B2%5D.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8325156589679679494.post-2906403171036736634</id><published>2011-03-22T10:08:00.001+07:00</published><updated>2011-03-28T05:29:19.204+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arikel'/><title type='text'>Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Dalam Rangka Peningkatan Perilaku Sehat Peserta Didik</title><content type='html'>&lt;h3&gt;&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/_Ekonvgqkc58/TYgSvC0fkWI/AAAAAAAAAJU/OhNg8W9Aclc/s1600-h/Suharto%5B4%5D.jpg"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; margin: 0px 10px 0px 5px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="Suharto" border="0" alt="Suharto" align="left" src="http://lh3.ggpht.com/_Ekonvgqkc58/TYgSwAP6TbI/AAAAAAAAAJY/udqvDO5eMPQ/Suharto_thumb%5B2%5D.jpg?imgmax=800" width="163" height="177" /&gt;&lt;/a&gt; Oleh : Suharto&lt;/h3&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Abstrak: &lt;/b&gt;Sikap dan perilaku peserta didik di sekolah-sekolah masih belum menunjukkkan peningkatan yang baik dalam derajat kesehatannya bahkan semakin menurun daya hayat dan daya tangkalnya terhadap pengaruh buruk. Sebagian penyebabnya adalah kurangnya kesadaran orang tua/masyarakat terhadap cara-cara penanggulangan periolaku tersebut. Sedangkan pendidikan kesehatan yang bersifat preventif kurang tersentuh terutama dalam wadah pendidikan formal (sekolah). Penanaman kesadaran perilaku sehat selalu menyangkut unsur sikap yang sudah terbentuk secara laten. Untuk itu jelas pembentukan jangka waktu yang lama, tidak seperti orang makan lombok sekali gigit terasa pedas melainkan suatu proses yang membutuhkan tekad dan usaha yang sungguh-sungguh. Paling efektif dalam upaya menanamkan kesadaran berperilaku sehat adalah anak usia 7 sampai 12 tahun, karena secara psikologis anak pada usia tersebut sedang memulai membentuk sikap terhadap sesuatu, oleh karena itu penanaman berperilaku sehat hendaknya dimulai dari usia dini yaitu mulai tingkat pendidikan dasar. Persoalannya, bagaimanakah peranan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dalam meningkatkan perilaku sehat peserta didik di Sekolah Dasar?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sesuai dengan tujuan UKS maka untuk memenuhinya UKS menerapkan tri program (Trias UKS) Dari ketiga program tersebut yang lebih efektif diperkirakan adalah penyelenggaraan pendidikan kesehatan, karena waktu yang paling banyak dimiliki peserta didik adalah waktu yang ekstrakurikuler dapat digunakan sebagai penunjang. Dengan mempertimbangkan hasil-hasil penilitian dan pemikiran yang ada tentang hambatan-hambatan peningkatan peranan UKS maka dapat ditempuh cara yang lebih efisien dan efektif yaitu pembakuan materi pendidikan kesehatan di di sekolah atau UKS.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kata Kunci&lt;/b&gt;: Usaha Kegiatan Sekolah, Perilaku Sehat, Usia Dini&lt;/p&gt;  &lt;h4&gt;A. Pendahuluan&lt;/h4&gt;  &lt;p&gt;Penulisan ini berangkat dari permasalahan bahwa sikap dan perilaku peserta didik di sekolah-sekolah masih belum menunjukkkan peningkatan yang baik dalam derajat kesehatannya bahkan semakin menurun daya hayat dan daya tangkalnya terhadap pengaruh buruk. Misalnya merokok, penyalahgunaan narkoba, dan lain-lain. Sebagian penyebabnya adalah kurangnya kesadaran orang tua/masyarakat terhadap cara-cara penanggulangan periolaku tersebut. Sekarang kebanyakan mengandalkan penggunaan cara-cara medikal dan rehabilitasi yang keduanya bersifat kuratif padahal kalau selesai pengobatan di Rumah Sakit mudah kambuh lagi, sedangkan kalau di rehabilitasi orang tua atau masyarakat masih sulit untuk melakukannya karena faktor sosio-psikologis. Sedangkan pendidikan kesehatan yang bersifat preventif kurang tersentuh terutama dalam wadah pendidikan formal (sekolah) dengan memanfaatkan wadah kegiatan yang ada seperti Usaha Kesehatan Sekolah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berkaitan dengan gerakan peningkatan perilaku sehat seperti gerakan antai narkoba, anti merokok dan lain-lain serta dikaitakn dengan prospektif otonomi pendidikan disadari akan pentingnya penanaman perilaku sehat dikalangan masyarakat umumnya dan peserta didik khususnya. Penanaman kesadaran perilaku sehat selalu menyangkut unsur sikap yang sudah terbentuk secara laten. Untuk itu jelas pembentukan jangka waktu yang lama, artinya tidak seperti orang makan lombok sekali gigit terasa pedas melainkan suatu proses yagn membutuhkan tekad dan usaha yang sungguh-sungguh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebagai suatu proses input yang paling efektif dalam upaya menanamkan kesadaran berperilaku sehat adalah anak usia 7 sampai 12 tahun. Karena secara psikologis anak pada usia tersebut sedang memulai membentuk sikap terhadap sesuatu, oleh karena itu penanaman berperilaku sehat hendaknya dimulai dari usia dini yaitu mulai tingkat pendidikan dasar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Uraian di atas menambah keyakinan penulis akan pentingnya wadah kesehatan di sekolah khususnya Usahan Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai media dalam upaya penanaman kesadaran berperilaku sehat. Apalagi masyarakat sekarang mulai menuntut sekolah sebagai wahana pendidikan yang mandiri sehubungan dengan otonomi daerah dan menganggap sekolah sebagai alternatiaf yang paling efektif dalam mendidik anak. Hanya sekolah yang mampu mengintodusir anak pada dunia ilmu baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotor.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari uraian di atas penulis bermaksud mengungkap tentang peranan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dalam peningkatan perilaku sehat peserta didik. Bagaimanakah peranan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dalam meningkatkan perilaku sehat peserta didik di Sekolah Dasar?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;B. Pembahasan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;1. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;UKS adalah wahana atau tempat untu meningkatkan kemampuan hidup sehat dan meningkatkan derajat kesehatan siswat sedini mungkin. Tujuan UKS secara umum adalah peningkatan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan siswa serta menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimum dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Sedangkan tujuan secara khusus meliputi : (a) Peningkatan produktivitas belajar siswa. (b) Peningkatan dan pengembagnan pengetahuan, sikap dan ketrampilan siswa dalam menjalankan prinsip hidup sehat serta berpartisipasi aktif dalam upaya peningkatan kesehatan di sekolah, rumah tangga maupun lingkungan masyarakat. (c) Peningkatan daya hayat dan daya tangkal terhadap pengaruh buruh penyalahgunaan narkoba, alkohol dan sebagainya. (d) Peningkatan kondisi institusi pendidikan sehingga dapat mendukung berlangsungnya kegiatan proses belajar mengarjar yang menunjang tercapainya kemampuan untuk menjalankan prinsip hidup sehat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ruang lingkup UKS terdiri dari tiga program (Trias Program) (1) Penyelenggaraan pendidikan kesehatan yang meliputi, pengetahuan tentang dasar hidup sehat, sikap tanggap terhadap persoalan kesehatan dan latihan kebiasaan hidup sehat. (2) Penyelenggaraaan pelayanan kesehatan meliputi, pelayanan kebersihan dan pemeriksaan murid, pengobatan ringan dan P3K, pengawasan warung sekolah, pencatatan dan pelaporan tentang keadaan penyakit. (3) Pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;2. &lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Belajar (Learning)&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Belajar diartikan sebagai usaha untuk memperoleh hal-hal yang baru dalam tingkah laku (pengetahuan, kecakapan, ketrampilan dan nilai-nilai) dengan aktivitas kejiwaan sendiri. Dari pengertian ini dapat dimunculkna ciri-ciri belajar, yaitu : (a) Belajar adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang sedang belajar baik aktual maupun potensial. (b) Perubahan tersebut pada pokoknya didapatkan karena kemampuan baru yang berlaku untuk yang relatif lama. (c) Perubahan-perubahan itu terjadi karena usaha. (Soekidjo, 1993 : 21)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Teori learning sebenarnya banyak tapi yang penting menurut teori Stimulus Respon adalah tingkah laku tiruan sehingga penulis menggunakan teoi learning NE. Miller dan J. Dollard, yang dalam teorinya mereka membedakan tiga macam mekanisme tingkah laku tiruan, yaitu : (a) Tingkah laku sama (&lt;i&gt;same behaviour&lt;/i&gt;), yaitu tingkah laku yang terjadi apabila dua orang yang bertingkah laku balas (berespon) sama rasanya atau isyarat yang sama. (b) Tingkah laku tergantung (&lt;i&gt;matchet dependent behaviourr&lt;/i&gt;), yaitu tingkah laku yang timbul dalam interksi antara dua pihak, dimana salah satu pihak mempunyai kelebihan (lebih pandai, lebih mampu, lebih tua dan sebagainya) dari pihak lain. (c) Tingkah laku salinan (&lt;i&gt;copying behaviour&lt;/i&gt;), yaitu tingkah laku yang meniru atas dasar isyarat yang berupa tingkah laku yang diberikan oleh model. Perbedaannya dengan tingkah laku tergantung adalah dalam tingkah laiku tergantung si peniru hanya bertingkah laku terhadap isyarat yang diberikan oleh model pada saat itu saja sedangkan pada salinan si peniru memperhatikan juga tingkah laku model di masa lalu maupun yang akan datang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Disamping menggunakan teori Miller juga menggunakan teori A. Bandura dan RH. Walter yang menyatakan bahwa : ”Pengaruh tingkah laku model terhadap tingkah laku peniru dibedakan menjadi tiga macam, yaitu : (a) Efek modelling (&lt;i&gt;modelling effect&lt;/i&gt;), yaitu peniru melakukan tingkah laku baru melalui asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku model. (b) Efek menghambat (&lt;i&gt;inhibition&lt;/i&gt;) dan penghapus hambatan (&lt;i&gt;disinhibition&lt;/i&gt;) dimana tingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkah laku model dihambat timbulnya sedangkan tingkah laku yang sesuai denan tingkah laku model dihapuskan hambatannya sehingga menimbulkan tingkah laku yang dapat menjadi nyata. (c) Efek kemudahan (&lt;i&gt;facilitation effects&lt;/i&gt;), yaitu tingkah laku yang sudah pernah dipelajari oleh peniru lebih mudah muncul kembali dengan mengamati tingkahl laku model.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam proses belajar ada beberapa faktor yang mempengaruhi yang menurut ahli pendidikan J. Gulbert, ada 4 faktor yang mempengaruhi proses belajar yakni : faktor materi, lingkungan, instrumental dan faktor individual subjek belajar. (Soekidjo, 1993 : 31)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;3. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Perilaku (Behaviour)&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas seseorang baik yang dapat diamati secara langsung ataupun yang dapat diamatai secara tidak langsung. Lebih lanjut dikatakan oleh seorang ahli perilaku Skiner (1938) mengemukakan bahwa perilaku merupakan hasil hubungan antara stimulus dan respon. Ia membedakan dua respon yaitu : (a) Responden respon atau reflective, ialah respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan tertentu yang disebut elicting stimulasi karena menimbulkan respon-respon yang relatif tetap. (b) Operant respon atau instrumental response, adalah respon yagn timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang tertentu. Perangsang seperti ini disebut reinforsing stimuli karena perangsang-perangsang tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan. Oleh karena itu perangsangan yang demikian itu mengikuti atau memperkuat suatu perilaku tertentu yang telah dilakukan..” (Soekidjo, 1993 : 57)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bentuk perilaku atau respon terhadap stimulus ada dua macam yaitu : (a) Bentuk pasif, adalah respon internal yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain. (Berfikir tanggapan atau sikap batin dan pegetahuan). Misalnya : siswi tahu bahwa kotor adalah sumber penyakit, meskipun siswa tersebut tidak membersihkan kotoran tersebut tapi tahu bahwa kebersihan itu sangat berguna bagi kesehatan dan dia sangat mendukungnya. Oleh sebab itu perilaku mereka ini masih terselubung (&lt;i&gt;cover behaviour&lt;/i&gt;). (b) Bentuk aktif, yaitu apabila perilaku itu jelas dapt diobservasi secara langsung. Misalnya dari contoh diatas siswa langsung ikut membersihkan dan menjaganya. Oleh karena itu perilaku mereka sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata maka disebut cover behaviour.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sedangkan perilaku kesehatan adalah respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta minuman. Secara rinci perilaku kesehatan menyangkut : (a) Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia berespon baik secara pasif tentang penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya dan luar dirinya maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut. (b) Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan, yaitu respon seseorang terhadap sistem pelayanan kesehatan baik sistem pelayanan kesehatan modern maupun tradisional. (c) Perilaku terhadap makanan (&lt;i&gt;nutrition behaviour&lt;/i&gt;), yakni respon seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan. (d) Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (&lt;i&gt;environment healt behaviour&lt;/i&gt;), yaitu respon seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia. Perilaku ini mencakup lingkungan air bersih, pembuangan air kotor, limbah padat maupun limbah cair, rumah sehat dan sarang vektor.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;4. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Pendidikan Kesehatan (Healt Education)&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pendidikan kesehatan adalah proses melakukan intervensi faktor perilaku sehingga perilaku individu, kelompok atau masyarakat sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Dalam prosesnya terjadi pengaruh timbal balik antara tiga faktor yaitu input (sasaran didik), proses (metode dan teknik belajar, alat bantu dan materi pelajaran) serta ouput (hasil belajar berupa kemampuan atau perubahan perilaku dari peningkatan subjek belajar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ruang lingkup pendidikan kesehatan ada tiga dimensi, yaitu : (a) Sasaran pendidikan kesehatan, yang meliputi individu, kelompok dan masyarakat. (b) Tempat pendidikan kesehatan yaitu di sekolah, di rumah sakit dan di tempat kerja. (c) Tingkat pelayanan pendidikan kesehatan menurut Leavel and Clark meliputi promosi kesehatan, perlindungan khusus, diagnosa dini dan pengobatan segera sertya pembatasan cacat dan rehabilitasi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;5. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Peranan UKS dalam Peningkatan Perilaku Sehat &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Keberhasilan dalam setiap aktivitas perilaku sangat bergantung pada sumber daya manusia yang sehat yaitu sehat fisik, mental dan sosial karena kalau tidak sehat semua aktivitaws yang produktif akan hilang bahkan akhirnya menjadi beban masyarakat. Oleh karena itu upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan harus dimulai sedini mungkin, yaitu sejak masa kanak-kanak bahkan sejak masa kandungan dan pembinaan serta perkembangan kesehatan siswa melalui Usaha Kesehatan Sekolah merupakan salah satu langkah dalam peningkatan derajat kesehatannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau kita lihat bahwa jumlah peserta didik yang berusia 5 sampai 19 tsahun adalah cukup besar yaitu 55.872.000 dari jumlah seluruh penduduk Indonesia di tahun 2020 nanti (Lembaga Demografi UI, 1991). Peserta didik atau siswa ini merupakan kelompok yang mempunyai tingkat kesehatan yang lebih baik dibanding dengan kelompok masyarakat lain, ditinjau dari tingkat kesakitan. Meskipun demikian kelompok ini merupakan kelompok yang rawan karena berada dalam periode pertumbuhan dan perkembangan. Disinilah program UKS sangat penting peranannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sesuai dengan tujuan UKS yaitu memupuk kebiasaan hidup sehat dan mempertinggi derajat kesehatan siswa yang mencakup pengetahuan, sikap dan ketrampilan, maka cakupan dalam pembinaan dan pengembangannya harus memenuhi ketiga tujuan tersebut. Untuk memenuhinya UKS menerapkan tri program (Trias UKS) yaitu penyelenggaraan pendidikan kesehatan, penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat. Dari ketiga program tersebut yagn lebih efektif diperkirakan adalah penyelenggaraan pendidikan kesehatan. Karena waktu yang paling banyak dimiliki siswa adalah waktu yang ekstrakurikuler dapat digunakan sebagai penunjang. Disamping alasan tersebut ada alasan lain yang diungkap oleh ahli pendidikan kesehatan bahwa dalam program pelayanan kesehatan kurang dilibatkan pendidikan kesehatan. Meskipun program itu mungkin telah melibatkan pendidikan kesehatan tetapi kurang berbobot. Argumentasi mereka adalah karena pendidikan kesehatan itu tidak segera dan jelas memperlihatkan hasil. Dengan perkataan lain pendidikan kesehatan itu tidak segara membawa manfaat bagi masyarakat dan yang mudah dilihat atau diukur. (Soekidjo, 1993 : 9) Dari pendapat ini dapat dikatakan bahwa selama ini pendidikan kesehatan dianggap tidak efektif sehingga kurang mendapat perhatian dari kalangan permerhati UKS.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;6. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Tujuan dan Materi Pendidikan Kesehatan &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menurut pedoman pembinaan dan pengembangan UKS tujuan pendidikan kesehatan ialah agar peserta didik : (a) Memiliki pengetahuan tentang ilmu kesehatan, termasuk cara hidup sehat dan teratur. (b) Memiliki nilai dan sikap yang positif terhadap prinsip hidup sehat. (c) Memiliki ketrampilan dalam melaksanakan hal yang berkaitan dengan pemeliharaan, pertolongan dan perawatan kesehatan. (e) Memiliki kemampuan untuk menalarkan perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. (f) Memiliki kebiasaan hidup sehari-hari sesuai dengan syarat kesehatan. (g) Memiliki pertumbuhan termasuk bertambahnya tinggi badan dan berat badan secara harmonis. (h) Mengerti dan dapat menerapkan prinsip-prinsip pengutamaan pencegahan penyakit dalam kaitannya dengan kesehatan dan keselamatan dalam kehidupan sehari-hari.(i) Memiliki daya tangkal terhadap pengaruh buruk dari luar. (j) Memiliki kesegaran jasmani dan kesehatan yang optimal serta mempunyai daya tahan tubuh yang baik terhadap penyakit.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sedangkan materinya adalah sesuai dengan garis-garis besar progaram pengajaran (GBPP). Maka pelajaran pendidikan jasmani yang juga mencakup pendidikan kesehatan meliputi : (1) Kebersihan pribadi dan kesehatan pribadi. (2) Makanan dan minuman sehat. (3) Kebersihan lingkungan (sekolah dan rumah). (4) Keselamatan diri di dalam dan di luar rumah. (5) Mengenal UKS dan programya. (6) KMSAS (Kartu Menuju Sehat Anak Sekolah). (7) Cara membuang sampah dan air limbah yang benar. (8) Rumah sehat. (9) Mengenal penyakit yang banyak menyerang anak usia sekolah serta cara pencegahannya. (10) Pemeriksaan kesehatan berkala. (11) Pengenalan perubahan pada masa remaja. (12) P3Pd an P3K.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau melihat tujuan-tujuan yang ingin dicapai beserta materi yang disampiakan sungguih sangat baik sekali apabila di lapangan secara empiris berjalan dengan baik. Tetapi semua itu di lapangan kurang berjalan sesuai dengan yang diharapkan, hal ini nampaknya ada beberapa kendala, kalau menurut penulis adalah sebagai berikut : (1) Di dalam organisasi UKS tidak ada materi yang baku yang disesuaikan dengan tujuan program UKS dan tingkat/jenjang pendidikannya, yang dapat digunakan sebagai salah satu sarana untuk sosialisasi kesehatan ke peserta didik sehingga pemahaman peserta didik terhadap UKS dan perilaku sehat lebih mudah. Hambatan ini diperkuat dengan adanya kesimpulan dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh Depdikbud, Depkes, Depag dan Depdagri yaitu : (a) Masih banyak kekurangan yang ditemui, antara lain dalam hal tenaga guru, prasarana dan sarana penunjang proses belajar mengajar dalam pendidikan sekolah. (b) Sasaran upaya kesehatan ditinjau dari cakupan (&lt;i&gt;coverage&lt;/i&gt;) sekolah, peserta didik dikaitkan dengan wajib belajar, mutu penyelenggaraan, ketenagaan dan sarana prasarana belum seimbang dengan usaha pencapaian tujuan kegiatan. (Depkes I, 1995 : 3) (2) Masih adanya presepsi dari peserta didik bahwa UKS hanyalah wadah yang digunakan/dimanfaatkan kalau dia sedang tidak enak badan atau sakit saja dan lebih dari itu tidak ada. Misalnya pemahaman apa sebenarnya konsep sehat itu?, bagaimana meningkatkan derajat kesehatan dan bagaimana cara mengubah perilaku agar tetap sehat dan seterusnya. (3) Di benak peserta didik, pendidikan kesehatan itu sama dengan olah raga, sama dengan Biologi dan sama dengan Sosiologi dan sama dengan PPKN. Karena materi kesehatannya sebenarnya hanya ditempel-tempelkan atau diikut-ikutkan saja ke beberapa bidang studi tersebut sehingga apa yagn diprogramkan dan menjadi tinjauan pendidikan kesehatan menjadi ngambang tanpa arah yang jelas.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari beberapa hambatan tersebut dapat ditawarkan solusinya yang relevan dengan tugas pokok dan fungsi Depdikbud yaitu membina dan mengembangkan program UKS melalui jalur kurikuler (intrakurikuler dan ekstrakurikuler) termasuk didalamnya : (a) Merumuskan kebijaksanaan teknis pengembangan kurikulum dan saran pendidikan kesehatan. (b) Mengembangkan metodologi pendidikan kesehatan. (c) Mengembangkan model pendidikan kesehatan. (Depkes RI, 1995 : 8)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka dapat disimpulkan bahwa solusi yang mungkin dapt diterapkan adalah pembakuan materi pendidikan kesehatan oleh UKS sehingga peserta didik mempunyai pegangan yang konsekuensi logisnya peserta didik akan lebih cepat memahami bahkan diharapkan dapat menerapkannya dalam perilaku kehidupan sehari-hari.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan pembakuan materi pendidikan kesehatan oleh UKS berarti melaksanakan ketiga tugas pokok dan fungsi Depdikbud tersebut karena menyangkut kurikulum, metode pendidikan kesehatan dan modal pendidikan kesehatan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sedangkan langkah-langkah yang ditempuh dalam pembakuan materi dilakukan dengan menggunakan teori proses belajar dan teori perilaku serta pendidikan kesehatan sebagai landasannya sehingga secara kasar langakah-langkah yang ditempuh adalah : (1) Materi-materi yang sudah ada beberapa bidang studi yaitu dari Penjaskes, Biologi, Sosiologi dan PPKN serta materi lain yang relevan sesuai dengan jenjang pendidikannya dikumpulkan menjadi satu. (2) Identifikasi persamaan dan perbedaan serta kecocokan materi sesuai dengan GBPP. (3) Disusun secara sistematis dan kronologis sisesuaikan antara tujuan UKS dan tujuan GBPP. (4) Dibentuk diktat untuk materi pendidikan kesehatan bagi UKS. Isi diktat ini meliputi tiga domain perilaku atau tiga modal materi yang disajikan : (a) Materi yang berisi konsep kesehatan yang digunakan untuk melihat kognitif domain. (b) Materi yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada sikap atau anggapan peserta didik terhadap materi yagn diberikan untuk mengukur afektif domain. (c) Materi yang berisi petunjuk-petunjuk teknis operasional untuk melakukan praktek sehubungan dengan materi yang diberikan, ini untuk melihat psikomotor domain.&lt;/p&gt;  &lt;h4&gt;c. Penutup&lt;/h4&gt;  &lt;p&gt;Dengan melihat kenyataan sekarang perilaku sehat siswa di sekolah dan dimasyarakat masih belum ada peningkatan yang baik dalam derajat kesehatannya bahkan semakin menurun dan peran UKS sekarang yang kurang. Terbukti dengan hasil-hasil penelitian 4 Departemen maka peranan UKS sangat penting untuk ditingkatkan dalam rangka meningkatkan perilaku sehat siswa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan mempertimbangkan hasil-hasil penilitian dan pemikiran yang ada tentang hambatan-hambatan peningkatan peranan UKS maka dapat ditempuh cara yang lebih efisien dna efektif yaitu pembakuan materi pendidikan kesehatan di UKS.&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagi para pembina dan pembimbing serta pemerhati UKS diharapkan lebih memperhatikan peranannya sehingga UKS tidak terkesan hanya sebagai wadah pelengkap organisasi formal dengan berbagai program yang muluk-muluk tapi pelaksanaannya cukup dengan laporan formal saja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Depkes RI, 1990&lt;i&gt;. Pendidikan Kesehatan&lt;/i&gt;, Jakarta : UI press.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Depkes RI, 1990. &lt;i&gt;Petunjuk Teknis Penjaringan Kesehatan Di Sekolah&lt;/i&gt;, Jakarta : tanpa penerbit. 87 hal.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Depkes RI, 1995. &lt;i&gt;Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah, &lt;/i&gt;Jakarta : tanpa penerbit. 92 hal.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Soekidjo Notoatmodjo, 1993&lt;b&gt;&lt;i&gt;. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, Jakarta : penerbit Andi offset. 145 hal&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8325156589679679494-2906403171036736634?l=dharmapendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmapendidikan.blogspot.com/feeds/2906403171036736634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dharmapendidikan.blogspot.com/2011/03/usaha-kesehatan-sekolah-uks-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8325156589679679494/posts/default/2906403171036736634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8325156589679679494/posts/default/2906403171036736634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmapendidikan.blogspot.com/2011/03/usaha-kesehatan-sekolah-uks-dalam.html' title='Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Dalam Rangka Peningkatan Perilaku Sehat Peserta Didik'/><author><name>h4r1</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00647801599684162772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-jjV8jS_PCC8/TYP1Nytc5RI/AAAAAAAAAAY/0Woktzjo4EM/s220/DSCN0805.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh3.ggpht.com/_Ekonvgqkc58/TYgSwAP6TbI/AAAAAAAAAJY/udqvDO5eMPQ/s72-c/Suharto_thumb%5B2%5D.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8325156589679679494.post-211360919333576296</id><published>2011-03-22T09:48:00.001+07:00</published><updated>2011-03-28T05:28:52.881+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arikel'/><title type='text'>Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Tinggi Serta Implikasinya Terhadap Tugas dan Peranan Dosen</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_Ekonvgqkc58/TYgN6rAGFMI/AAAAAAAAAJE/lxeCKRkr3AA/s1600-h/elly%20lestari%5B4%5D.jpg"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; margin: 0px 10px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="elly lestari" border="0" alt="elly lestari" align="left" src="http://lh4.ggpht.com/_Ekonvgqkc58/TYgN8C__w5I/AAAAAAAAAJI/T99ZJM3A2FM/elly%20lestari_thumb%5B2%5D.jpg?imgmax=800" width="172" height="160" /&gt;&lt;/a&gt; Oleh : Elly Lestari&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Abstrak&lt;/b&gt; : Pembangunan nasional yang berlangsung sepanjang masa, maka pengembangan pendidikan tinggi masih diprioritaskan pemerintah untuk dikembangkan terus, termasuk juga peranan dan tugas dosen. Penetapan strategi merupakan bagian terpenting dalam penyusunan kerangka pengembangan pendidikan tinggi jangka panjang. Tujuan umumnya adalah menempatkan sistem dengan segala keterbatasan yang ada pada posisi paling baik di masa depan agar mampu menanggapi tantangan yang dihadapi. Peningkatan kualitas pendidikan tinggi tidak terlepas dari kualitas sumberdaya manusia yang dimiliki. Oleh sebab itu peningkatan kualitas perilaku dan tingkah laku dosen sebagai tenaga pengajar melalui jalur pendidikan dan program–program pelatihan yang efektif dalam melaksanakan tugasnya sangat dibutuhkan. Dengan sumberdaya manusia yang berkualitas, diharapkan pendidikan tinggi akan menjadi lembaga yang mampu menghadapi tantangan masa depan dengan efektif.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kata Kunci&lt;/b&gt; : Mutu Pendidikan, Tugas Dosen, Peranan Dosen&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;A. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan pada tahap manapun dalam perjalanan hidupnya. Pendidikan dapat diperoleh baik melalui jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah. Melalui pendidikan, manusia Indonesia diharapkan menjadi individu yang mempunyai kemampuan dan ketrampilan untuk secara mandiri meningkatkan taraf hidup lahir batin, dan meningkatkan peranannya sebagai pribadi, pegawai/karyawan, warga masyarakat, warga negara dan makhluk Tuhan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Penetapan strategi merupakan bagian terpenting untuk pengembangan Pendidikan Tinggi. Penetapan strategi tersebut didasarkan atas suatu penelaahan sistematis tentang sistem yang meliputi (1) wawasan, (2) misi untuk mewujudkan wawasan, (3) keadaan intern dan ekstern yang berpengaruh terhadap pencapaian misi. (4) identifikasi masalah utama yang harus ditangani untuk memperbaiki keadaan, dan (5) rencana perbaikan. Strategi pengembangan pendidikan tinggi meliputi telaah strategis, paradigma penataan sistem pendidikan tinggi, peningkatan relevansi dan mutu, serta pemerataan pendidikan tinggi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;B. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Telaah Strategis&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Telaah strategis diawali dengan menggambarkan keadaan Sistem Pendidikan Tinggi yang diinginkan pada masa yang akan datang. Gambaran tersebut dinyatakan sebagai wawasan jangka panjang yang digunakan sebagai acuan umum perumusan misi sistem untuk mencapai keadaan yang diinginkan. Langkah selanjutnya adalah membuat daftar tentang kekuatan dan kelemahan intern sistem, serta peluang dan ancaman dari lingkungan ekstern sistem yang berpengaruh terhadap pencapaian misi sistem.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Uraian tentang semua unsur yang mempengaruhi pencapaian misi sistem kemudian di analisis untuk menemukenali beberapa masalah besar sistem.Langkah ini dinamakan analisis kekuatan–kelemahan–peluang–ancaman, disingkat &lt;i&gt;Analisis&lt;/i&gt; KKPK atau ( SWOT – &lt;i&gt;Analisis )&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Langkah terakhir adalah menyusun suatu program perbaikan keadaan sistem dalam suatu struktur program yang memberikan gambaran komprehensif untuk merencanakan, mengendalikan implementasi, dan membuat evaluasi tentang pelaksanaannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Isi dari telaah strategis tersebut adalah :&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;a. Wawasan Jangka Panjang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;b. Misi Sistem Pendidikan Tinggi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;c. Keadaan Internal Sistem dan Lingkup Ekternal yang Mempengaruhi Pencapaian Misi Sistem Seperti :&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;kekuatan internal sistem. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;kelemahan internal sistem. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;Peluang dari lingkungan eksternal. &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;lima ancaman dari lingkungan eksternal. &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;d. Identifikasi Masalah utama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;e. Rencana Pengembangan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;C. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Paradigma Penataan Sistem Pendidikan Tinggi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apapun yang akan dinyatakan sebagai tujuan pendidikan, fungsi dasarnya di setiap masyarakat adalah sosialaisasi, dalam arti menyiapkan generasi muda untuk menghadapi dan mengatasi masalah–masalah pembangunan masyarakat di kemudian hari. Masyarakat Indonesia tidak terlepas dari masalah–masalah yang dihadapi oleh masyarakat dunia,yaitu pergaulan antar bangsa akan akan dilandasi oleh mekanisme pasar yang disertai mobilitas barang dan jasa secara global.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Untuk menghadapi hal tersebut, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi telah menyatakan bahwa salah satu tujuan utama Pendidikan Tinggi untuk Pelita VI dan menyongsong tonggak–tonggak waktu tahun 2005 dan 2020 adalah penataan sistem pendidikan agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Penataan Sistem Pendidikan Tinggi didasarkan atas 5 komponen. Kelima komponen tersebut adalah kualitas, otonomi, akuntabilitas, akreditasi dan evaluasi yang didapat digunakan sebagai acuan dasar atau Paradigma Penataan Sistem Pendidikan Tinggi yang meliputi :&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;1) Hasil dan kinerja perguruan tinggi harus selalu mengacu pada kualitas yang berkelanjutan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;2) Kualitas yang berkelanjutan, yang dilandasi kreatifitas,ingenuitas dan produktifitas pribadi sivitas akademika,dan dapat dirangsang oleh pola manajemen yang berasaskan otonomi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;3) Otonomi perguruan tinggi harus senafas dengan akuntabilitas mengenai penyelenggaran, kinerja dan hasil pergutuan tinggi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;4) Hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang handal dan syahih mengenai penyelengaraan, kinerja dan hasil perguruan tinggi, diaktualisasi melalui proses akreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;5) Tindakan manajerial utama yang melandasi pengambilan keputusan dan perencanaan di perguruan tinggi adalah proses evaluasi. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;D. &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Implikasi Prinsip Relevansi dan Mutu&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;Prinsip relevansi sebenarnya sepadan dengan konsep “link and match” di waktu lalu. Secara operasional,apa yang harus kita lakukan dalam rangka menerapkan konsep relevansi baik dalam proses manajemen pendidikan, pengembangan kurikulum, kegiatan perkuliahan, pengembangan dosen, penerimaan mahasiswa (leaner), sarana dan prasarana dan lain–lain. Dalam bidang perkuliahan misalnya bagaimana proses mendesain, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan perkuliahan? Apa peranan dosen dalam kegiatan perkuliahan agar dapat memberikan kontribusi secara optimal terhadap penerapan relevansi? Dua pertanyaan terakhir ini akan menjadi fokus bahasan tulisan ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;E. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Peranan Dosen dalam Mendesain dan Melaksanakan Perkuliahan &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sehubungan dengan perubahan pada karakteristik model pembelajaran, maka harus juga dilakukan inovasi di dalam pola hubungan dosen-mahasiswa. Pola directive harus diganti dengan non-directive. Dalam artian, peranan dosen yang terlalu dominan harus dirubah dengan menempatkan tanggung-jawab proses pembelajaran pada mahasiswa. Pendidikan yang tadinya lebih didasarkan pada mengingat, harus diganti dengan metode untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa di dalam pengamatan, analisa, dan reasoning. Dengan pendekatan non-directive, mahasiswa akan lebih aktif dan dapat merangsang ekspresi mahasiswa sebebas-mungkin. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kuliah tatap-muka hanyalah suatu pelengkap studi mahasiswa di dalam perpustakaan, laboratorium, atau di lapangan. Di sini, yang terpenting adalah peran dosen dalam membagikan dan mencangkokkan kesadaran, sikap, disiplin, dan etos ilmiah pada mahasiswa. Dengan lain perkataan, peran dosen adalah sebagai pembimbing dan rekan mahasiswa dalam mencari kebenaran ilmiah. Sehingga, tak kalah pentingnya adalah kemampuan dosen dalam merangsang hasrat ingin tahu mahasiswa. Karena, tanpa memiliki motivasi ingin tahu, segala usaha akan menjadi percuma.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam merumuskan tujuan mata kuliah yang disebut Tujuan Instruksional Umum, dosen perlu mengidentifikasi kemampuan–kemampuan yang diharapkan dapat dicapai oleh mahasiswa pada akhir semester. Tujuan ini dijelaskan kepada mahasiswa berikut relevansinya dengan kebutuhan berbagai dunia kerja yang mungkin menjadi pekerjaan mereka nanti.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemampuan dosen dalam merumuskan dan menjelaskan tujuan instruksional secara keseluruhan serta menjelaskannya secara menyakinkan kepada mahasiswa menjadi titik strategis &lt;b&gt;&lt;i&gt;pertama&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dari penerapan prinsip relevansi dalam pendidikan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam memilih dan menyajikan perkuliahan, disamping menghimpun atau menyusun bahan–bahan yang relevan dengan tujuan intruksional,dosen juga perlu mengembangkan contoh–contoh dan latihan penerapan konsep, prinsip, dan prosedur yang ada dalam bahan tersebut ke dalam berbagai dunia kerja yang mungkin menjadi pekerjaan mahasiswa setelah lulus nanti. Contoh–contoh dan latihan tersebut akan lebih mantap bila disajikan oleh dosen atau orang lain yang mempunyai pengalaman kerja dalam bidang tersebut.Pemberian contoh–contoh dan latihan tersebut menjadi titik strategis &lt;b&gt;&lt;i&gt;kedua&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dari penerapan prinsip relevansi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Agar pelaksanaan pemberian contohdan latihan ini berlangsung dengan mantap perlu dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut ini :&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;a. Dosen membawa mahasiswa ke dalam tempat / lingkungan kerja dan membahas jenis–jenis tugas yang sedang dikerjakan karyawan/pegawai yang merupakan penerapan dari konsep–konsep yang sedang dipelajari.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;b. Dosen mengundang pembicara tamu yang mempunyai profesi dalam bidang pekerjaan yang sesuai dengan matakuliah yang sedang dipelajari mahasiswa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;c. Dosen (secara sendiri–sendiri atau melalui pengaturan dari perguruan tingginya) menciptakan kesempatan bagi mahasiswa untuk mencoba melakukan (berpraktek/magang) tugas seperti yang dikerjakan karyawan di lingkungan kerja tersebut. Kesempatan magang ini merupakan titik strategis &lt;b&gt;&lt;i&gt;ketiga&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dalam prinsip relevansi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Untuk memperbesar kemungkinan pelaksanaan kesempatan tersebut, dosen perlu mempunyai pekerjaan sampingan (side job) dalam bidang pekerjaan yang relevan dengan matakuliah yang diajarkannya.Dengan mempunyai pekerjaan sampingan seperti itu, dosen akan lebih mantap dalam mengajar karena akan mampu memberikan contoh–contoh aplikasi dari teori yang ada dalam matakuliahnyake dalam dunia kerja.Pekerjaan sampingan ini merupakan titik strategis yang &lt;b&gt;&lt;i&gt;keempat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dalam prinsip relevansi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Proses perkuliahan yang baik harus dilengkapi dengan hal lain,yaitu penilaian terhadap proses dan hasil perkuliahan.Penilaian terhadap proses perkuliahan disamping bertujuan untuk memperbaiki perkuliahan dalam rangka meningkatkan efektifitas perkuliahan,juga bertujuan untuk meningkatkan motivasi mahasiswa dalam matakuliah tersebut. Oleh karena itu dosen perlu meminta bantuan mahasiswa dalam proses perkuliahan sebagai responden dan narasumber.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam penilaian hasil perkuliahan,dosen perlu menentukan faktor – faktor yang dinilai dengan mengacu pada tujuan intruksional yang telah disusunnya.Rumusan tujuan instruksional harus direlevansikan dengan pekerjaan yang mungkin nanti akan dilakukan mahasiswa setelah lulus nanti.Dengan demikian,isi tugas,isi tes,atau ujian matakuliah ahrus pula relevan dengan pekerjaan tersebut.Disinilah letak titik strategis &lt;b&gt;&lt;i&gt;kelima&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dalam pinsip relevansi bagi dosen.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kegiatan lain yang sangat membantu penerapan konsep relevansi adalah dosen menulis bahan matakuliah (paling sedikit mengkompilasi bahan kuliah) secara lengkap dan sistematis sehingga mahasiswa lebih mudah mempelajarinya dan dapat disesuaikan dengan waktu dan tempat yang tersedia baginya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;F. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Implikasi Akuntabilitas terhadap Tugas Dosen&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Konsepsi ini berkembang dari pendapat bahwa siapapun yang diserahi tugas mendidik harus dapat mempertanggungjawabkan tugasnya.Dalam konsepsi akuntabilitas paling sedikit ada empat komponen yang harus diperhatikan, yaitu tujuan, kegiatan, penilaian dan umpan balik. Tujuan dalam tiap usaha pendidikan harus dapat dirumuskan dengan jelas sehingga dapat diketahui dengan tepat misalnya banyaknya perubahan perilaku penampilan pada diri mahasiswa.Kegiatan yang dilakukan hendaknya merupakan kegiatan yang mengarah kepada tercapainya tujuan. Penilaian, merupakan usaha untuk mengetahui seberapa jauh tujuan telah tercapai serta berapa banyak biaya yang telah dikeluarkan.Sedang umpan balik dimaksudkan agar dapat dilakukan penyempurnaan, baik pada tujuan maupun kegiatan oleh mereka yang berkepentingan. Keempat komponen ini merupakan satu kesatuan, yang pada hakekatnya berada didalam suatu pendekatan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Atas dasar konsepsi itu dapatlah dikatakan bahwa pendidikan yang akuntabel adalah pendidikan yang :&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;a. Tujuannnya jelas dan dapat dijabarkan menjadi tujuan - tujuan khusus.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;b. Kegiatannnya dapat diawasi agar selalu mengarah kepada pencapaian tujuan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;c. Hasilnya efektif karena tujuan tercapai.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;d. Proses pencapaian hasil itu efisien dengan mengingat sumber – sumber yang tersedia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;e. Menjalankan mekanisme umpan balik untuk menyempurnakan usaha pendidikan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Para dosen sebagai pihak yang paling banyak mendapat sorotan mungkin berkeberatan terhadap pelaksanaan konsep akuntabilitas karena dari mereka dituntut kegiatan awal (persiapan) yang banyak, mengubah cara atau gaya yang telah dikuasai atau menjadi kebiasannya,serta merasa dicampuri,diawasi,dan dinilai kegiatan keahliannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;4. Pemerataan Pendidikan Tinggi&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Penyelenggara pendidikan tinggi bertanggungjawab melaksanakan kebijakan dalam meningkatkan pemerataan pendidikan tinggi yang meliputi tiga aspek berikut :&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;1. Perluasan Kesempatan Belajar&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pemerataan kesempatan dalam memperoleh pendidikan tinggi berhubungan dengan peran pendidikan tinggi sebagai wahana mobilitas sosial.Pemerataan kesempatan mengikuti pendidikan tinggi berkenaan dengan dua segi yaiti kuantitatif dan kualitatif. Dari segi kuantitatif, hal ini mengangkut peningkatan kapasitas tampung program pendidikan S -1 dan Diploma di lembaga pendidikan tinggi negeri dan swasta. Dari segi kualitatif, harus diusahakan agar proporsi jumlah mahasiswa baik menurut bidang keahlian maupun jalur pendidikan sesuai dengan keperluan bidang dan jenjang keahlian dalam dunia kerja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;2. Penyebaran Pendidikan Tinggi melalui Pusat Pertumbuhan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pemerataan dalam penyebaran pendidikan tinggi secara geografis,terkait dengan peran pendidikan tinggi sebagai sumber daya pembangunan di wilayah kedudukannya.Penyebaran kemampuan menyelenggarakan fungsi kelembagaan pendidikan tinggi di semua wilayah, termasuk mengembangkan program– program unggul yang memiliki keberhasilan yang tinggi di suatu wilayah. Penyebaran kemampuan ini diselenggarakan antara lain melalui pusat–pusat pertumbuhan pendidikan tinggi di kawasan Barat dan Timur Indonesia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;3. Peningkatan Peran Perguruan Tinggi dalam Menyiapkan Tenaga untuk Keperluan Setempat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Perguruan tinggi harus mampu memenuhi kebutuhan sumberdaya setempat baik dalam jumlah maupun mutu dengan meningkatkan sumberdaya pendidikan untuk memasok kebutuhan sumberdaya manusia setempat, dan meningkatkan proses pendidikan di perguruan tinggi setempat dengan mengembangkan unsur–unsur pokok dan penunjang yang diperlukan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;G. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Peningkatan kualitas pendidikan tinggi tidak terlepas dari kualitas sumberdaya manusia yang dimiliki. Oleh sebab itu peningkatan kualitas perilaku dan tingkah laku melalui jalur pendidikan perlu diupayakan. Selain itu juga adanya program–program pelatihan yang efektif di perguruan tinggi untuk meningkatkan kemampuan anggota staf akademik dalam melaksanakan kegiatan fungsionalnya sangat dibutuhkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan sumberdaya manusia yang berkualitas,diharapkan pendidikan tinggi akan menjadi lembaga yang mampu menghadapi tantangan masa depan dengan efektif.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Depdikbud, Ditjen Dikti. 1983 . &lt;i&gt;Materi Dasar Pendidikan Program Akta Mengajar V Buku IIA. Dasar Ilmu Pendidikan&lt;/i&gt;. Jakarta : Depdikbud, Ditjen Dikti.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mudyaharjo, R., Rasyidin, W., Soegiyanto, S. 1993 . &lt;i&gt;Dasar–Dasar Kependidikan&lt;/i&gt;. Jakarta: Universitas Terbuka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Soehendro, Bambang . 1996. &lt;i&gt;Kerangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Jangka Panjang 1996 – 20&lt;/i&gt;&lt;i&gt;05&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;&lt;/i&gt;Jakarta : Depdikbud, Dirjen Dikti.&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Suparman, Atwi.1994. &lt;i&gt;Lima Titik Dasar dalam Penerapan Konsep Link and Match, Seminar Peran Perguruan Tinggi dalam Melaksanakan Keterkaitan dan Keterpaduan&lt;/i&gt;. Jakarta : Ditjen Dikti&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tamat, T. 1965. &lt;i&gt;Dari Pedagogik ke Androgogik: Pedoman bagi PengelolaPendidikan dan Latihan&lt;/i&gt;. Jakarta: Pustaka Dian&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Undang– Undang RI No.2 Tahun 1998 tentang Sistem Pendidikan Nasional&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8325156589679679494-211360919333576296?l=dharmapendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmapendidikan.blogspot.com/feeds/211360919333576296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dharmapendidikan.blogspot.com/2011/03/upaya-peningkatan-mutu-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8325156589679679494/posts/default/211360919333576296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8325156589679679494/posts/default/211360919333576296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmapendidikan.blogspot.com/2011/03/upaya-peningkatan-mutu-pendidikan.html' title='Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Tinggi Serta Implikasinya Terhadap Tugas dan Peranan Dosen'/><author><name>h4r1</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00647801599684162772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-jjV8jS_PCC8/TYP1Nytc5RI/AAAAAAAAAAY/0Woktzjo4EM/s220/DSCN0805.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh4.ggpht.com/_Ekonvgqkc58/TYgN8C__w5I/AAAAAAAAAJI/T99ZJM3A2FM/s72-c/elly%20lestari_thumb%5B2%5D.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8325156589679679494.post-2669788914842443628</id><published>2011-03-22T09:28:00.001+07:00</published><updated>2011-03-28T05:29:37.082+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arikel'/><title type='text'>Pengenalan E-Learning</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;#160;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_Ekonvgqkc58/TYgP2r2vGTI/AAAAAAAAAJM/C0XPzSQeJY8/s1600-h/hariyono%5B4%5D.jpg"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; margin: 0px 10px 0px 5px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="hariyono" border="0" alt="hariyono" align="left" src="http://lh6.ggpht.com/_Ekonvgqkc58/TYgP3kFLmTI/AAAAAAAAAJQ/JCPVfRat-4o/hariyono_thumb%5B2%5D.jpg?imgmax=800" width="125" height="157" /&gt;&lt;/a&gt; Oleh: Hariyono&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;Abstrak :&lt;/b&gt; Pada abad 21 ini perkembangan teknologi informasi sudah berkembang secara pesat, begitu juga dengan dunia pendidikan yang harus mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tersebut, sehingga nantinya dapat menghasilkan peserta didik yang tidak gagap teknologi. Konsep klasik tentang pendidikan yang selama ini berlaku, sedikit demi sedikit mulai berubah. Belajar dengan fasilitas internet yang dikenal dengan E-Learning dengan mudah telah menghilangkan batasan ruang dan waktu yang selama ini membatasi dunia pendidikan. Hakekat e-learning adalah bentuk pembelajaran konvensional yang dituangkan dalam format digital melalui teknologi internet.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;Kata kunci:&lt;/b&gt; e-learning&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;A. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dewasa ini hampir seluruh aspek kehidupan kita tersentuh oleh digital. Berbeda dengan informasi analog yang sifatnya kontinyu, informasi digital dicirikan dari representasinya dalam bentuk diskontinyu. Dulu mungkin kita berpikir bahwa kegiatan belajar mengajar harus dalam ruang kelas (pengajaran konvensional). Dengan kondisi dimana guru atau dosen mengajar di depan kelas sambil sesekali menulis materi pelajaran di papan tulis. Beberapa puluh tahun yang lalu pun juga telah dikenal pendidikan jarak jauh. Walaupun dengan mekanisme yang boleh dibilang cukup ‘sederhana’ untuk ukuran sekarang, tetapi saat itu metode tersebut sudah dapat membantu orang-orang yang butuh belajar atau mengenyam pendidikan tanpa terhalang kendala geografis. Memang kita akui, sejak ditemukannya teknologi Internet, hampir ‘segalanya’ menjadi mungkin. Kini kita dapat belajar tak hanya &lt;i&gt;anywhere, &lt;/i&gt;tetapi sekaligus &lt;i&gt;anytime &lt;/i&gt;dengan fasilitas sistem e-Learning yang ada.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Untuk melihat dukungan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terhadap kegiatan pembelajaran secara umum, terdapat beberapa istilah yang mirip, seperti: Distance Education, Distance Learning, Computer Mediated Learning, Computer Aided Instruction, dsb. Sehingga tak jarang terjadi tumpang tindih dalam penggunaan istilah tersebut. Tulisan ini sengaja menggunakan istilah e-Learning karena cakupan pengertian yang lebih umum digunakan dan juga menekankan aspek penggunaan TIK dalam memfasilitasi kegiatan pembelajaran kapan saja, dimana saja.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Berikut adalah pengertian dari beberapa istilah tersebut:&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;1. &lt;i&gt;Distance Learning, &lt;/i&gt;yaitu &lt;i&gt;instructional delivery &lt;/i&gt;yang tidak mengharuskan siswa untuk hadir secara fisik pada tempat yang sama dengan pengajar (Ornager, UNESCO, 2003).&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;2. &lt;i&gt;Distance Education, &lt;/i&gt;yaitu model pembelajaran dimana siswa berada di rumah atau kantor mereka dan berkomunikasi dengan dosen maupun dengan sesama mahasiswa melalui e-mail, forum diskusi elektronik, videoconference, serta bentuk komunikasi lain yang berbasis komputer (Webopedia, 2003).&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;3. &lt;i&gt;E-Learning, &lt;/i&gt;yaitu proses belajar yang difasilitasi dan didukung melalui pemanfaatan TIK (Martin Jenkins and Janet Hanson, Generic Center, 2003).&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dari segi infrastruktur, bila yang kita butuhkan dari sistem e-Learning adalah sebatas aplikasi tutorial yang cukup kita &lt;i&gt;install &lt;/i&gt;per PC, kita hanya perlu komputer yang &lt;i&gt;stand alone. &lt;/i&gt;Sebaliknya bila sistem yang kita inginkan benar-benar punya akses kapan saja­dimana saja, maka kita butuh infrastruktur Internet, baik &lt;i&gt;wireless &lt;/i&gt;maupun tidak. Karakteristik sistem yang terakhir biasa disebut web-based e-Learning. &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;B. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Pengertian&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Istilah e-Learning mengandung pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar yang menguraikan tentang definisi e-Learning dari berbagai sudut pandang. Salah satu definisi yang cukup dapat diterima banyak pihak misalnya dari &lt;i&gt;Darin E. Hartley &lt;/i&gt;[Hartley, 2001 ] yang menyatakan: &lt;i&gt;e-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain. e-Learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer, maupun komputer standalone.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dari puluhan atau bahkan ratusan definisi yang muncul dapat kita simpulkan bahwa sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar dapat disebut sebagai suatu e-Learning.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;e-Learning atau electronic learning kini semakin dikenal sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah pendidikan, baik di negara-negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Banyak orang menggunakan istilah yang berbeda-beda dengan e-learning, namun pada prinsipnya e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan jasa elektronika sebagai alat bantunya.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;e-Learning memang merupakan suatu teknologi pembelajaran yang yang relatif baru di Indonesia. Untuk menyederhanakan istilah, maka electronic learning disingkat menjadi e-learning. Kata ini terdiri dari dua bagian, yaitu ‘e’ yang merupakan singkatan dari ‘electronica’ dan ‘learning’ yang berarti ‘pembelajaran’. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika. Jadi dalam pelaksanaannya e-learning menggunakan jasa audio, video atau perangkat komputer atau kombinasi dari ketiganya. &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Jaya Kumar C. Koran (2002), mendefinisikan e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. Ada pula yang menafsirkan e-learning sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet. &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Onno W. Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;C. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Mengapa E-Learning?&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Perbedaan Pembelajaran Tradisional dengan e-learning yaitu kelas ‘tradisional’, guru dianggap sebagai orang yang serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada pelajarnya. Sedangkan di dalam pembelajaran &lt;i&gt;‘e-learning’ &lt;/i&gt;fokus utamanya adalah pelajar. Pelajar mandiri pada waktu tertentu dan bertanggung -jawab untuk pembelajarannya. Suasana pembelajaran &lt;i&gt;‘e-learning’ &lt;/i&gt;akan ‘memaksa’ pelajar memainkan peranan yang lebih aktif dalam pembelajarannya. Pelajar membuat perancangan dan mencari materi dengan usaha, dan inisiatif sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Karakteristik e-learning, antara lain. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Pertama, &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Memanfaatkan jasa teknologi elektronik; di mana guru dan siswa, siswa dan sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Kedua, &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer networks). &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ketiga, &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (&lt;i&gt;self learning materials&lt;/i&gt;) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Keempat, &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Untuk dapat menghasilkan e-learning yang menarik dan diminati, Onno W. Purbo (2002) mensyaratkan tiga hal yang wajib dipenuhi dalam merancang e­learning, yaitu : &lt;b&gt;sederhana, personal, dan cepat. &lt;/b&gt;Sistem yang sederhana akan memudahkan peserta didik dalam memanfaatkan teknologi dan menu yang ada, dengan kemudahan pada panel yang disediakan, akan mengurangi pengenalan sistem e-learning itu sendiri, sehingga waktu belajar peserta dapat diefisienkan untuk proses belajar itu sendiri dan bukan pada belajar menggunakan sistem e-learning-nya. Dengan pendekatan dan interaksi yang lebih personal, peserta didik diperhatikan kemajuannya, serta dibantu segala persoalan yang dihadapinya. Hal ini akan membuat peserta didik betah berlama-lama di depan layar komputernya. &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Banyak hal yang mendorong mengapa e-learning menjadi salah satu pilihan untuk penyelesaian masalah pendidikan, antara lain: disebabkan karena pesatnya fasilitas teknologi informasi.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi (TI) yang semakin pesat, kebutuhan akan suatu konsep dan mekanisme belajar mengajar (pendidikan) berbasis TI menjadi tidak terelakkan lagi. Konsep yang kemudian terkenal dengan sebutan e-Learning ini membawa pengaruh terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional ke dalam bentuk digital, baik secara isi &lt;i&gt;(contents) &lt;/i&gt;dan sistemnya. Saat ini konsep e-Learning sudah banyak diterima oleh masyarakat dunia, terbukti dengan maraknya implementasi e-Learning di lembaga pendidikan.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;D. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Teknologi Pendukung E-Learning&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dalam prakteknya e-learning memerlukan bantuan teknologi. Dalam perkembangannya, komputer yang paling populer dipakai sebagai alat bantu pembelajaran secara electronic, karena itu dikenal dengan istilah: ((1) computer based learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan komputer; dan (2) computer assisted learning (CAL) yaitu pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer. &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Saat pertama-tama komputer mulai diperkenalkan khususnya pada pembelajaran, maka ia menjadi dikenal atau populer di kalangan anak didik. Bisa dimengerti karena berbagai variasi teknik mengajar bisa di buat dengan bantuan komputer tersebut. &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Teknologi pembelajaran terus berkembang. Namun pada prinsipnya teknologi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: &lt;i&gt;Technology based learning &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Technology based web-learning. &lt;/i&gt;Technology based learning ini pada prinsipnya terdiri dari Audio Information Technologies (radio, audio tape, voice mail telephone) dan Video Information Technologies (video tape, video text, video messaging). Sedangkan technology based web-learning pada dasarnya adalah Data Information Technologies (bulletin board, Internet, e-mail, tele-collaboration).&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari, yang sering dijumpai adalah kombinasi dari teknologi yang dituliskan di atas (audio/data, video/data, audio/video). Teknologi ini juga sering di pakai pada pendidikan jarak jauh (distance education), dimasudkan agar komunikasi antara murid dan guru bisa terjadi dengan keunggulan teknologi e-learning ini.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Di antara banyak fasilitas internet, menurut Onno W. Purbo (1997), “ada lima aplikasi standar internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, yaitu e­mail, Mailing List (milis), News group, File Transfer Protocol (FTC), dan World Wide Web (WWW)”.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Sedangkan Rosenberg (2001) mengkatagorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Pertama, &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;e-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Kedua, &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;e-learning dikirimkan kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ketiga, &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;e-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang menggungguli paradikma tradisional dalam pelatihan.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Penggunaan e-learning tidak bisa dilepaskan dengan peran Internet. Menurut Williams (1999). &lt;i&gt;Internet adalah ‘a large collection of computers in networks that are tied together so that many users can share their vast resources’.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;E. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Pengembangan Model&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Pendapat Haughey (1998) tentang pengembangan e-learning. Menurutnya ada tiga kemungkinan dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet, yaitu &lt;i&gt;web course, web centric course, dan web enhanced course.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;Web course &lt;/i&gt;adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet. Dengan kata lain model ini menggunakan sistem jarak jauh.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;Web centric course &lt;/i&gt;adalah penggunaan internet yang memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampikan melalui internet, dan sebagian lagi melalui tatap muka. Fungsinya saling melengkapi. Dalam model ini pengajar bisa memberikan petunjuk pada siswa untuk mempelajari materi pelajaran melalui web yang telah dibuatnya. Siswa juga diberikan arahan untuk mencari sumber lain dari situs-situs yang relevan. Dalam tatap muka, peserta didik dan pengajar lebih banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui internet tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;Web enhanced course &lt;/i&gt;adalah pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas. Fungsi internet adalah untuk memberikan pengayaan dan komunikasi antara peserta didik dengan pengajar, sesama peserta didik, anggota kelompok, atau peserta didik dengan nara sumber lain. Oleh karena itu peran pengajar dalam hal ini dituntut untuk menguasai teknik mencari informasi di internet, membimbing mahasiswa mencari dan menemukan situs-situs yang relevan dengan bahan pembelajaran, menyajikan materi melalui web yang menarik dan diminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui internet, dan kecakapan lain yang diperlukan.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;F. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Cara Penyampaian/Pemberian Pembelajaran&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Pada dasarnya cara penyampaian atau cara pemberian (&lt;i&gt;delivery system&lt;/i&gt;) dari e-learning, dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: (1) One way communication (komunikasi satu arah); dan (2) Two way communication (komunikasi dua arah).&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Komunikasi atau interaksi antara guru dan murid memang sebaiknya melalui sistem dua arah. Dalam e-learning, sistem dua arah ini juga bisa diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: (1) Dilaksanakan melalui cara langsung (&lt;i&gt;synchronous&lt;/i&gt;). Artinya pada saat instruktur memberikan pelajaran, murid dapat langsung mendengarkan; dan (2) Dilaksanakan melalaui cara tidak langsung (&lt;i&gt;a-synchronous&lt;/i&gt;). Misalnya pesan dari instruktur direkam dahulu sebelum digunakan.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Karakteristik e-learning ini antara lain adalah: (1) Memanfaatkan jasa teknologi elektronik; di mana guru dan siswa, siswa dan sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang (2) protokoler; (3) Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer networks); (4) Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya; dan (5) Memanfaatkan jadual pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Pemanfaatan e-learning tidak terlepas dari jasa internet. Karena teknik pembelajaran yang tersedia di internet begitu lengkap, maka hal ini akan mempengaruhi terhadap tugas guru dalam proses pembelajaran. Dahulu, proses belajar mengajar didominasi oleh peran guru, karena itu disebut the era of teacher. Kini, proses belajar dan mengajar, banyak didominasi oleh peran guru dan buku (the era of teacher and book) dan pada masa mendatang proses belajar dan mengajar akan didominasi oleh peran guru, buku dan teknologi (&lt;i&gt;the era of teacher, book and technology&lt;/i&gt;).&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Informasi sudah merupakan ‘komoditi’ sebagai layaknya barang ekonomi yang lain. Peran informasi menjadi kian besar dan nyata dalam dunia modern seperti sekarang ini. Hal ini bisa dimengerti karena masyarakat sekarang menuju pada era masyarakat informasi (information age) atau masyarakat ilmu pengetahuan (knowledge society). Oleh karena itu tidak mengherankan kalau ada perguruan tinggi yang menawarkan jurusan informasi atau teknologi informasi, maka perguruan tinggi tersebut berkembang menjadi pesat.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;G. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Strategi Penyediaan Sistem e-Learning&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Untuk menyediakan sistem e-Learning dalam suatu organisasi, katakanlah institusi pendidikan, terdapat beberapa pilihan yang dapat kita ambil :&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;Mengembangkan sendiri. &lt;/i&gt;Dengan menjatuhkan pilihan pada pilihan ini, artinya institusi perlu memiliki tim untuk pengembangan sistem. Disini benar-benar akan digunakan manajemen proyek dimana alokasi sumber daya manusia (mulai dari manajer proyek, system analyst, business analyst, system architect, system developer, tester, hingga documentator), alokasi biaya dan waktu diatur sedemikian rupa sehingga &lt;i&gt;requirements &lt;/i&gt;dapat dicapai sesuai target. Pilihan metodologi pengembangan dan teknologi yang akan digunakan merupakan ‘hak prerogratif’ tim pengembang dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan yang ada. &lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;Membeli sistem yang sudah ada. &lt;/i&gt;Salah satu hal yang bisa digunakan untuk menebak mengapa suatu organisasi membeli aplikasi perangkat lunak atau perangkat keras adalah tersedianya anggaran yang dimiliki serta berbagai pertimbangan seperti kemudahan, khususnya pendeknya waktu implementasi serta layanan pascaimplementasi. Namun yang perlu diperhatikan dari pilihan ini adalah seringkali fasilitas yang ada terlalu kompleks dari apa sebenarnya yang dibutuhkan organisasi yang bersangkutan. &lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;Menggunakan open source e-Learning system. &lt;/i&gt;Saat ini telah terdapat beberapa sistem e-Learning berbasis open source seperti Moodle, Claroline, dan yang lainnya. Jelas, bagi organisasi yang akan memanfaatkan software ini tidak perlu membayar. Lisensi yang digunakan biasanya adalah GPL atau GNU. Effort yang &lt;/div&gt;   &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_Ekonvgqkc58/TYgJOsJkgbI/AAAAAAAAAI8/e3OvW0Fllv4/s1600-h/clip_image002%5B3%5D.gif"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="clip_image002" border="0" alt="clip_image002" src="http://lh4.ggpht.com/_Ekonvgqkc58/TYgJPT2i22I/AAAAAAAAAJA/Bs3OLJw95Tg/clip_image002_thumb.gif?imgmax=800" width="240" height="11" /&gt;&lt;/a&gt;perlu kita lakukan ketika memutuskan menggunakan sistem ini adalah, kita perlu mempelajari dokumentasi program, bahkan kalau perlu algoritma­algoritma yang digunakan. Tidak adanya layanan pascaimplementasi berarti menuntut penggunanya untuk terlibat aktif dalam milis-milis atau memperhatikan bug-bug yang mungkin ditemukan dibelakang hari.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;4. &lt;i&gt;Melakukan kustomisasi. &lt;/i&gt;Melakukan kustomisasi artinya memanfatkan kembali modul-modul yang tersedia, baik itu dikembangkan sendiri, dari software open source ataupun dengan cara membeli dengan tujuan untuk dapat dimodifikasi sesuai requirements yang dibutuhkan organisasi.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;H. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;e-Learning adalah pembelajaran yang memerlukan alat bantu elektronika. Bisa berupa technology base learning seperti audio dan video atau web-base learning (dengan bantuan perangkat computer dan internet). Penggunaan teknologi e-learning sebenarnya bisa dipakai untuk pendidikan tatap muka atau pendidikan jarak jauh tergantung dari kepentingannya.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;e-Learning akan dimanfaatkan atau tidak sangat tergantung bagaimana pengguna memandang atau menilai e-learning tersebut. Namun umumnya digunakannya teknologi tersebut tergantung dari: (1). Apakah teknologi itu memang sudah merupakan kebutuhan (2). Apakah fasilitas pendukungnya yang memadai, (3). Apakah didukung oleh dana yang memadai dan (4). Apakah ada dukungan dari pembuat kebijakan.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Asep Herman Suyanto, &lt;i&gt;Mengenal e-learning&lt;/i&gt;, www.ipi.or.id, &lt;strong&gt;Webpage Diakses Pada 16 Maret 2007.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Hartanto, A.A. dan Purbo, O.W. (2002), Teknologi e-Learning Berbasis PHP dan MySQL, &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Jakarta&lt;/em&gt;&lt;em&gt;.: Elex Media Komputindo.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;R. POPPY YANIAWATI, Peran ”E-Learning” Dalam Pembelajaran, www.pikiran-rakyat.com/ , &lt;strong&gt;Webpage Diakses Pada 16 Maret 2007.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Soekartawi (2002a). Prospek Pembelajaran Melalui Internet. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional ‘Teknologi Kependidikan’ yang diselenggarakan oleh UT-Pustekkom dan IPTPI, &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Jakarta&lt;/em&gt;&lt;em&gt;, 18-19 Juli 2002.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Soekartawi (2002b), e-Learning: Konsep dan Aplikasinya. Bahan-Ceramah/Makalah disampaikan pada Seminar yang diselenggarakan oleh Balitbang Depdiknas, &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Jakarta&lt;/em&gt;&lt;em&gt;, 18 Desember 2002.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Soekartawi (2003). E-Learning di Indonesia dan Prospeknya di Masa Mendatang. Makalah disampaikan di seminar nasional di Universitas Petra, &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Surabaya&lt;/em&gt;&lt;em&gt;, 3 Februari 2003.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Soekartawi, &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;Prinsip Dasar E-Learning: Teori dan Aplikasinya Di Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="mailto:sutrisnomehera@gmail.com"&gt;Sutrisno, &lt;/a&gt;&lt;i&gt;E-learning di Sekolah dan KTSP&lt;/i&gt;, re-earchengines.com, &lt;strong&gt;Webpage Diakses Pada 16 Maret 2007.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Yudi Purnawan, &lt;i&gt;&lt;a href="http://yudipurnawan.wordpress.com/2007/11/17/pengertian-e-learning/"&gt;Pengertian E-Learning&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, yudipurnawan.wordpress.com, &lt;strong&gt;Webpage Diakses Pada 16 Maret 2007.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8325156589679679494-2669788914842443628?l=dharmapendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmapendidikan.blogspot.com/feeds/2669788914842443628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dharmapendidikan.blogspot.com/2011/03/pengenalan-e-learning.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8325156589679679494/posts/default/2669788914842443628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8325156589679679494/posts/default/2669788914842443628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmapendidikan.blogspot.com/2011/03/pengenalan-e-learning.html' title='Pengenalan E-Learning'/><author><name>h4r1</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00647801599684162772</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-jjV8jS_PCC8/TYP1Nytc5RI/AAAAAAAAAAY/0Woktzjo4EM/s220/DSCN0805.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh6.ggpht.com/_Ekonvgqkc58/TYgP3kFLmTI/AAAAAAAAAJQ/JCPVfRat-4o/s72-c/hariyono_thumb%5B2%5D.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
